Selasa, 08 Februari 2011

Faith

Pernahkah terbayang di diri Anda, betapa berat pekerjaan dan tanggung jawab yang diemban oleh seorang sopir pribadi? Dia harus setiap hari mampu membawa mobil dan majikan agar selamat sampai tempat tujuan.

Tidak semua majikan paham akan beratnya tanggung jawab yang ada di pundak sopir tersebut. Coba pikir, mana ada jalanan yang dapat diprediksi? Bisa saja ada motor yang mendadak memotong, bisa saja ada yang menyeberang tiba-tiba, terdapat seribu satu kemungkinan yang dapat terjadi di jalanan.

Tetapi kenapa sopir bersedia mengemban tanggung jawab tersebut? Karena pengalaman dan jam terbangnya. Memang yang nantinya terjadi di jalan tidak dapat diprediksi, tetapi pengalaman dan jam terbang yang dimilikinya mengakibatkan dia mampu mengantisipasinya.

Menjaga jarak aman dengan kendaraan lain, mengerem pada saat di perempatan untuk mengantisipasi, tetapi yang tidak terkalahkan oleh orang lain adalah pengalaman. Pengalaman mendidiknya untuk bereaksi cepat apabila terjadi hal tidak terduga.

Hal ini terjadi dan dibuktikan oleh saya sendiri. Suatu senin pagi yang "apes", pada saat sopir hendak menyalip motor, tanpa diduga dan tanpa sebelumnya oleng kanan kiri, 2 orang pengendara sepeda motor tersebut terlempar jatuh. Sialnya lagi, yang 1 orang jatuhnya tepat di depan mobil yang sedang melaju kencang karena hendak menyalip.

Jatuhnya pengendara motor tersebut dikarenakan terkena lobang di jalan. Kemungkinan, rem depan motor tersebut tidak beres, sehingga begitu ban depan motornya masuk lobang maka rem langsung terkunci. Akibatnya, pengendaranya langsung terlempar jatuh tanpa dapat diduga.

Tentunya sopir pun tidak mengira dan tidak mengantisipasi akan terjadi hal tersebut. Bagaimana bisa mengantisipasi, tanpa peringatan apapun dan tanpa oleng kanan kiri terlebih dahulu, tiba-tiba saja orangnya sudah jatuh di depan mobil. Tapi pengalaman yang membuat refleknya untuk bergerak cepat langsung mengerem.

Saat itu, saya rasakan sendiri bagaimana rasanya ban mobil melindas (entah bagian mananya). Masih merinding ngeri bulu kuduk saya kalau mengingat kejadian tersebut. Tetapi sopir dengan tenangnya memundurkan mobil (dan melindas ulang, ngeri...), kemudian turun dan langsung menggotong orang tersebut ke pinggir jalan.

Tahukah Anda yang terjadi pada diri saya? Saya hanya mematung dalam mobil, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Setelah diberi pertolongan ala kadarnya di pinggir jalan, kembali si sopir menggotong orang tersebut masuk ke dalam mobil membawanya ke rumah sakit. Baru saya tersadar dan mulai bisa bereaksi. Tuhan masih berbaik hati, dengan berada tepat di depan mobil dan dengan jarak sedekat itu, ditambah kencangnya laju mobil karena hendak menyalip, orang tersebut hanya terlindas telapak tanggannya saja. Bagi saya, kejadian tersebut adalah mukjizat Tuhan, rasanya sudah tidak mungkin selamat karena saya melihat dengan mata kepala sendiri orang tersebut sudah berada di bawah mobil yang masih melaju.

Tidak terbayang bukan kalau yang terlindas kepalanya atau bagian tubuh lain? Pasti akan fatal akibatnya dan sudah jelas si sopir juga masuk penjara. Untung hanya telapak tangan, tidak terlalu parah karena hasil pengecekan rumah sakit menunjukkan tidak terdapat tulang yang patah dan hanya luka luar yang hanya perlu beberapa jahitan.

Sejak kejadian tersebut, saya menjadi lebih menghargai si sopir. Disamping kemampuan mengemudinya lebih baik, dia juga memiliki kemampuan bereaksi cepat mengantisipasi segala segala hal yang terjadi di jalanan daripada saya sendiri. Bayangkan bila pada hari itu saya yang mengemudi, belum tentu orang tersebut selamat karena reaksi pengereman tidak secepat sopir.

Oleh karenanya, saya maklumi saja kalau saat ini mobil hanya sekedar lecet-lecet. Tidak mungkin mobil akan tetap mulus tanpa lecet kalau digunakan di jalanan yang segala halnya tidak dapat diduga. Tetapi saya tetap beryakinan bahwa dengan jam terbang dan pengalamaan si sopir, tentunya dia akan berusaha semaksimal mungkin menghindari tabrakan fatal (kecuali Tuhan berkehendak lain). Yang penting saya bisa sampai tujuan dengan selamat, juga nyaman karena tidak dipusingkan dengan jalanan.

Kalau sudah berniat menggunakan sopir, ya sudah, tutup mata saja dengan jalanan dan nikmati dengan membaca koran. Tanpa dikomando pun, sopir sudah paham betul apa yang harus dilakukan. Santai saja kalau hanya sekedar menyerempet, toh hanya lecet sedikit. Tentunya sopir memiliki rasa tanggung jawab, tidak mungkin dia mengemudi dengan ngawur, dia juga harus menjaga pekerjaan sekaligus nyawanya, disamping nyawa majikannya dan keutuhan mobil.

Tetapi tidak semua majikan berpikiran seperti itu, banyak juga yang cerewet, seolah-olah lebih pintar mengemudi daripada sopir. Hal ini sebenarnya menunjukkan ketidakpercayaan. Nah, kalau tidak percaya dikemudikan oleh orang lain, kenapa juga harus repot menggunakan sopir, kemudikan saja sendiri khan :)

Sopir saya bercerita, pernah terjadi seorang temannya yang juga sopir, akhirnya turun ditengah jalan dan meninggal majikan beserta mobilnya karena sudah sangat jengkel. Bagaimana tidak jengkel, sepanjang jalan diomeli terus menerus dan diajari cara menyetir yang baik seolah-olah si sopir baru saja belajar mengemudi kemarin. Nah, yang kebingungan majikannya, karena kebetulan si majikan ini adalah perempuan dan tidak bisa mengemudi, ditinggal di tengah jalan pula oleh si sopir.. :)

Pembelajarannya, kalau Anda sudah menentukan pilihan, belajarlah untuk mempercayainya (faith).

Jangan pernah sok pintar, hargai keahlian orang lain, meskipun hanyalah seorang sopir. Dia berani melamar menjadi sopir karena dia yakin akan keahliannya. Sepintar apapun Anda, tidak akan pernah bisa mengalahkan sopir. Dia sepenuhnya menggunakan waktunya untuk belajar menjadi sopir yang baik, sedangkan Anda tidak. Sudah jelas dia akan lebih ahli daripada Anda, meskipun sopir tersebut hanyalah lulusan sekolah dasar.

Pada dasarnya, sangat jarang manusia yang tidak bertanggung jawab. Mereka pasti berusaha melakukan yang terbaik, baik bagi dirinya maupun bagi kepentingan yang lain.

Oleh karena itu, mohon maklum apabila live account Andromeda Live dan account-account lainnya memiliki hasil yang buruk.

Karena sejak kemarin, "sopir" account-account tersebut bukan lagi saya, tetapi pemilik account-nya sendiri yang mencoba berusaha menjadi "sopir". Karena menurutnya trading adalah hal yang sangat gampang, hanya buy dan sell saja kok repot amat :)

Mungkin memang harus begini, harus dicoba menabrak "orang" terlebih dahulu, baru kemudian di masa mendatang pekerjaan "sopir" dapat lebih dihargai.

Sekali lagi, mohon maaf dan mohon maklum adanya.

Minggu, 06 Februari 2011

Comparing Brokers (#4)

5 Digits Master Account:




5 Digits Live Account:




5 Digits Demo Account:












4 Digits Demo Account:







ECN Demo Account:






Entry & Exit Strategy


Pak Ary,

Artikel tentang Trading Wisdom sangat menggugah. Semoga banyak yang membaca artikel tersebut karena apa yang tertulis disana benar-benar 'wise' apalagi untuk para trader yang baru memulai 'karirnya' dalam market.

Sebenarnya kemarin saya baru sempat membuka blog Andromeda lagi karena saya teringat tentang sebuah strategi dalam EA yang ingin saya tanyakan. Namun, saat saya membuka blog tersebut sudah banyak artikel menarik yang saya lewatkan untuk dibaca salah satunya Comparing Brokers. Salut untuk Pak Ary yang berdedikasi tinggi dalam trading ini hingga sangat berniat meluangkan waktunya untuk membandingkan broker yang satu dengan yang lain. Semoga Pak Ary bisa menemukan broker yang terbaik yang bisa dipercaya untuk nantinya dapat digunakan pada Managed Fund dengan deposit yang terjangkau tentunya.

Kembali ke masalah EA, ada sebuah pernyataan Pak Ary dalam artikel di bagian Andromeda Managed Funds #2 tertulis:

"Yang problem adalah exit, karena bila exit tidak optimal maka RR akan menjadi kacau balau dan dalam jangka panjang akan merugikan karena dapat membuat account amblas.

..., kadang saatnya exit terlambat sehingga profit kecil. Kadang kala terlalu cepat sehingga profit tidak maksimal. Singkat kata, bila automatic exit yang optimal telah ditemukan, maka separuh dari badan robot telah tercipta, tinggal langkah selanjutnya menyempurnakan entry."


Yang mengganjal dan menjadi pertanyaan dari pernyataan tersebut tentunya adalah mengenai masalah Entry dan Exit Strategy. Tampak dari pernyataan tersebut, saya mengasumsikan (semoga kurang tepat) bahwa Exit Strategy yang sebenarnya paling penting. Bukankah sebenarnya justru Entry Strategy yang paling penting dan menjadi inti EA itu sendiri?

Menurut asumsi saya, Entry yang tepat adalah main target dalam EA karena disitulah kita mencari sebuah posisi order yang sesuai dengan arah pergerakan market, bukan? Tentunya ini adalah impian saya yaitu jika saja bisa membuat sebuah Entry Strategy yang mampu membaca arah candlestick (tanpa indikator) maka dapat dipastikan 'grail' sudah didepan mata. :)

Sekian dulu korespondensi dari saya. Semoga Pak Ary tetap semangat. Terima kasih untuk perhatiannya.


Best regards,
Aras


Benar Pak Aras, artikel berjudul Traders Wisdom memang ditujukan kepada para trader yang baru memulai karirnya dalam market. Artikel tersebut bukanlah hasil mengarang sendiri tetapi hasil copy paste dari forexfactory.com dimana hanya diambil yang menggugah saja dan kemudian dilakukan sedikit editing agar lebih enak dibaca.

Sengaja diambil dari forexfactory.com dan kemudian ditampilkan di blog ini, dikarenakan apa yang tertulis benar adanya.

Trading sebenarnya hanyalah sebuah pekerjaan. Oleh karenanya, tidak semua orang akan dapat cocok untuk melakukannya. Sama halnya dengan tidak semua orang cocok menjadi dokter atau tentara, hanya mereka yang terpanggil sajalah yang mampu. Trading pun sama, akan tetapi menjadi campur aduk dikarenakan adanya potensi menghasilkan uang tidak terbatas.

Banyak yang terjun ke trading hanya karena alasan ingin kaya raya dalam waktu singkat. Padahal tidaklah semudah itu, perlu kerja keras, disiplin, dan pengorbanan agar dapat mengalahkan market. Sama saja dengan dokter atau tentara pada contoh diatas, mereka perlu sekolah bertahun-tahun agar kemudian dapat meraih karier tersebut. Itupun tidak semua dokter atau tentara nantinya setelah lulus sekolah, kemudian menjadi dokter atau jenderal yang sukses dan terkenal.

Apa yang membedakan dokter yang biasa-biasa saja dengan dokter yang terkenal? Menurut pendapat saya, perbedaan terletak pada adanya passion (kesukaan). Bila pada dasarnya sejak kecil sudah berkeinginan menjadi dokter dan kemudian setelah menjadi dokter pun masih tidak puas dan selalu belajar terus menerus untuk memuaskan rasa penasarannya, hal inilah yang akan membedakannya dengan dokter yang biasa-biasa saja.

Saya meyakini bahwa Tuhan telah memberikan kelebihan pada setiap orang melalui kesukaannya. Bila ingin mencapai sukses, gunakanlah kesukaan (passion) dan bukan menggunakan kelemahan (yang tidak disukai).

Ada satu pesan bijak dari alam dimana segala sesuatu itu terwujud melalui "proses" yang tentunya juga membutuhkan "waktu". Sama saja dengan keinginan menjadi trader yang sukses, tentunya melalui "proses" dan membutuhkan "waktu". Passion adalah tenaga agar mampu menjalani "proses" dan "waktu", kalau tenaga tersebut tidak ada maka sudah dapat dipastikan akan gagal di tengah jalan.

You need patience while walking threw hell to get to heaven

Bila tidak betah duduk berlama-lama di depan monitor, jangan paksakan diri untuk menjadi trader. Percuma saja, karena hanya membuang waktu. Tuhan telah sangat adil, uang tidak hanya datang dari melakukan trading. Semuanya bisa dijual untuk mendatangkan uang, yang perlu dilakukan hanyalah bagimana menjadikan apa yang ditawarkan oleh diri menjadi lebih baik daripada yang ditawarkan oleh orang lain, agar nantinya lebih laku dijual daripada milik orang lain. Oleh karenanya, jalan tercepat untuk menjadi terbaik adalah menggunakan kelebihan dalam diri yang sudah dianugrahkan oleh Tuhan.

Kenapa menggunakan kelebihan dalam diri merupakan jalan tercepat? Karena sudah tidak perlu memoles lagi. Bayangkan bila seorang yang pendiam disuruh menjadi salesman menjual barang. Banyak hal yang harus dilakukan terlebih dahulu agar kemudian dapat menjual barang. Harus belajar berbicara yang baik, belajar merayu pembeli, dan lain sebagainya. Tapi coba bila yang menjadi salesman adalah seseorang yang sudah memiliki bakat berbicara dan merayu, tentunya tanpa perlu belajar apapun akan dengan mudahnya dapat menjual. Tuhan telah sedemikian adil, hanya saja kita kadang tidak menyadarinya.

Masalah utama sebenarnya terletak pada kemampuan memahami diri sendiri (Self). Tidak banyak orang yang mampu mengenali dirinya sendiri dengan baik. Akibatnya, sangat sedikit yang paham akan passion-nya sendiri. Akhirnya yang terjadi hanyalah sekedar ikut-ikutan. Contoh sederhana akan hal ini, perhatikan saja acara seleksi Indonesian Idol atau acara lain sejenis di televisi, banyak sekali yang tidak menyadari kalau tidak bisa bernyanyi tetapi memaksakan diri untuk bernyanyi :)

Pak Aras silahkan mencoba test sederhana ini, coba saja ambil 2 lembar kertas kosong dan bagikan kepada teman-teman. Minta kepada mereka, pada 1 lembar kertas tuliskan sebanyak mungkin "apa yang tidak diinginkan" dan di kertas lain sebanyak mungkin tuliskan "apa yang diinginkan".

Pada saat diminta menuliskan apa yang mereka inginkan, mereka akan mencoba menulis mulai 1 ... 2 ...... 3 ... Mulai termenung mencari .... 4 ... Merenung lebih lama .... 5 .... Mulai terhenti .....

‎​Untuk membantu mereka supaya tidak terhenti, sebaiknya disarankan untuk sementara melupakan menulis apa yang mereka inginkan. Mulailah dengan menulis apa yang tidak mereka inginkan. Apa yang mereka rasa tidak nyaman pada diri mereka, lingkungan, terdekat atau sekitar mereka, apa yang ditakutkan atau dikhawatirkan akan terjadi, dan semacamnya. Buat nomor urut 1 sampai 20 kalau perlu sampai 100.

Nantinya Pak Aras akan mengetahui bahwa kebanyakan orang akan dengan sangat lancar menuliskan "apa yang tidak mereka inginkan" :)

Kesimpulannya, kebanyakan orang baik sadar maupun tidak, lebih banyak menggunakan pikirannya untuk memperhatikan "hal-hal yang tidak diinginkan". Takut dijadikan bahan omongan orang, takut si boss tidak senang, dan lain sebagainya, dimana akibat hal-hal ini justru tidak "menjadi diri sendiri" tetapi menjadi "diri yang diinginkan oleh orang lain". Yang dilakukan adalah selalu berusaha menyenangkan orang di sekeliling dan makin jauh dari diri sendiri.

I was listening to everybody opinions, all but mine...

Nah, kalau sudah makin jauh dari diri sendiri, bagaimana bisa tahu passion dalam diri? Tidak akan pernah tahu, karena yang dilakukan adalah berusaha membentuk dirinya agar sesuai dengan yang diinginkan oleh orang lain. Padahal akibat hal ini, justru akan menyiksa diri sendiri dan tidak menimbulkan kebahagiaan. Karena yang dilakukan bukanlah passion-nya sendiri, tetapi passion orang lain.

if you are not conscious why you trade, you’ll never be happy nor successful

Sama saja dengan trading, banyak orang melakukannya bukan karena passion, tetapi karena ingin mendapatkan uangnya. Memaksa diri padahal tidak suka berlama-lama di depan komputer, tidak sabaran padahal dalam trading diperlukan ketelatenan dan kesabaran ekstra, malas belajar padahal dalam trading dituntut belajar terus menerus tanpa henti. Bila hal ini tetap dilakukannya dengan memaksakan diri, suatu hari nanti bukanlah kebahagiaan yang didapat tetapi justru perasaan tersiksa. Perasaan tersebut akan menguras energi yang bersangkutan, oleh karenanya sering disebut sebagai "lintah energi" dimana lama kelamaan akan dapat menimbulkan penyakit dalam diri.

Oleh karenanya, jadilah diri sendiri dan gunakan semaksimal mungkin passion yang telah dianugrahkan Tuhan.

Find that "Self" and the parallel questions of Life, Meaning, God, etc. will find their answers, too.

Itulah PERFECT ENTRY dalam hidup ini :)


Kenapa exit lebih penting daripada entry?

Dalam hidup ini maupun dalam trading, exit lebih sulit daripada entry. Sangat sulit melakukan exit, baik dalam kondisi loss ataupun profit. Contoh sederhana seperti Mesir saat ini, kenapa sih tidak turun tahta saja? Toh profit sudah banyak :)

Kenapa ada saja perusahaan yang tetap bertahan pada saat kondisi sudah nyaris bangkrut. Kenapa ada karyawan yang tetap dipertahankan padahal jelas-jelas tidak produktif. Itulah contoh exit dalam kondisi loss. Jawaban atas kedua hal tersebut adalah sama, yaitu karena kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi pada masa mendatang, sehingga akhirnya timbul pengharapan.

Harapan bisa bertahan di tahta, harapan kondisi akan lebih membaik di masa mendatang. Pengharapan tersebut yang efeknya justru akan lebih menghancurkan apabila yang terjadi di masa mendatang tidak sesuai. Bila exit saat ini, tentunya akan lebih banyak yang bisa diselamatkan daripada exit nanti pada saat baru disadari ternyata harapan tidaklah sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.

Pengharapan hanya boleh dilakukan apabila terdapat 2 hal yang mendukungnya, yaitu adanya kondisi yang memungkinkan dan adanya upaya terus menerus mencapai harapan. Tetapi apabila salah satu atau seluruhnya tidak mendukung pengharapan, maka lebih baik lakukan exit sesegera mungkin untuk menghindari efek kehancuran yang lebih hebat nantinya.

Dalam hidup ini maupun dalam trading, lebih banyak diajarkan entry daripada exit. Bersekolah yang baik agar nantinya mendapat pekerjaan baik adalah entry dalam hidup ini. Atau baca saja forum-forum forex, lebih banyak mengajarkan entry daripada exit. Padahal tidak semua entry hasilnya baik, kadang kala buruk. Bisa saja sudah sekolah yang baik tetapi menjadi pengangguran. Pada saat hal ini terjadi, kebanyakan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Hasil statistik menunjukkan bahwa kebanyakan mengalami kehilangan uang modal bukan dikarenakan salah entry, tetapi akibat tidak bereaksi saat loss terjadi. Akibatnya loss membesar dan memakan modal. Salah entry adalah hal biasa dalam trading maupun dalam hidup ini, tetapi akan menjadi berakibat fatal kalau dibiarkan membesar.

Gambaran sederhananya seperti ini, contoh pertama, lakukan 3 kali entry dengan take profit 20 pip dan tanpa stoploss. Andaikan 2 kali entry akan menghasilkan profit masing-masing 20 pip, sedangkan entry ketiga salah dan kemudian dibiarkan karena tidak digunakan stoploss. Tentunya profit 40 pip yang sebelumnya diperoleh ditambah modal, seluruhnya akan tergerus loss akibat entry ketiga yang salah. Disini terlihat pentingnya membatasi resiko, segeralah exit apabila kondisi tidak lagi memungkinkan, seperti halnya contoh Mesir diatas :)

Contoh kedua, 3 kali entry dengan stoploss dan take profit masing-masing 20 pip sehingga Risk Reward Ratio (RR) adalah 1:1. Andaikan 2 kali entry berhasil profit 20 pip, tetapi pada entry ketiga sempat terjadi floating profit sebesar 15 pip (tidak sampai menyentuh garis take profit 20 pip), dan setelahnya berbalik arah sehingga garis stoploss tersentuh. Pada contoh kedua ini terlihat bahwa 3 kali entry benar seluruhnya, tetapi menjadi salah pada entry terakhir akibat exit yang tidak benar.

Contoh ketiga, 3 kali entry dengan stoploss 20 pip dan exit tidak menggunakan take profit tetapi menggunakan auto exit EA. Entry 1 dan 2 menghasilkan profit 50 pip dan 70 pip.

Kenapa bukan 20 pip seperti contoh pertama dan kedua? Pada contoh pertama dan kedua diasumsikan garis take profit tersentuh, artinya, harga bergerak sangat kencang sehingga dengan mudahnya take profit tersentuh. Hal ini dapat diartikan juga bahwa dengan kencangnya pergerakan, tentunya profit dapat melebihi 20 pip.

Sehingga, mungkin batas maksimal (yang setelahnya harga akan berbalik arah) adalah sekitar 50 pip dan 70 pip. Dengan menggunakan fleksibel exit (auto exit EA) maka 3 entry akan menjadi seluruhnya benar, yaitu profit 50 pip, 70 pip, dan 15 pip. Perlu diketahui bahwa market bukanlah ilmu pasti, kita harus sefleksibel mungkin mengikutinya.

Sukses dalam trading, bukanlah terletak pada entry, tetapi terletak pada exit.

Tidak perlu entry 100% benar, cukup sedikit diatas 60% saja akan menghasilkan profit besar. Kuncinya, manfaatkan entry yang sudah benar untuk melakukan exit seoptimal mungkin.

Tidak apa-apa 4 kali salah melakukan entry, toh sudah dibatasi dengan stoploss masing-masing 20 pip. Tetapi kalau entry ke-5 ternyata benar, bisa saja entry terakhir ini menghasilkan 200 pip. Sehingga apabila dijumlahkan hasilnya adalah profit 120 pip.

Itulah kenapa exit lebih dipentingkan daripada entry. Tetapi hal ini baru akan terjadi apabila untuk melakukan entry yang tepat sudah paham betul, kalau entry masih kacau balau, ya jangan dulu... :)

Pentingnya exit bukan hanya sekedar pendapat saya sendiri, tetapi sudah dibuktikan oleh juara kontes myfxbook Oktober 2010. Pak Aras dapat membacanya disini: Analyzing The Winners

Perhatikan bahwa juara tersebut memiliki akurasi entry hanya sebesar 67%, tetapi kenapa profit dalam sebulan dapat mencapai 40 kali lipat? Bukan entry yang utama, tetapi dia benar-benar mengoptimalkan exit, let your profit run.

Holy grail atau kesaktian dalam trading bukanlah karena adanya sistem, indikator, candlestick "sakti" yang akurat 100%, tetapi terletak pada pola pikir dan sudut pandang. Lihat saja juara tersebut, profit 40 kali bukan dihasilkan dari sistem yang entry-nya 100% akurat.

It's no surprise to me that most traders are philosophers, first you have to know who you are, after that you'll see the whole world under a different light, then you can develop your "unique" strategy..

Dari pertanyaan yang Pak Aras ajukan, saya mengasumsikan (semoga kurang tepat) bahwa Pak Aras masih bingung dengan entry. Sehingga, entry saja masih bingung harus bagaimana, kok sekarang sudah dibilang justru lebih baik memikirkan exit, wah... jadi tambah bingung khan :)

Tidak apa-apa Pak Aras, yang mengalami kebingungan seperti itu tidak hanya Pak Aras sendiri, saya pun sama saja. Bahkan sampai merasakan kok otak saya ini tiba-tiba menjadi sangat bodoh sekali kalau berhadapan dengan trading, sejuta cara telah dicoba tetapi seluruhnya gagal total :)

Sebuah kalimat bijak yang selalu saya yakini agar tidak frustasi dengan trading, Jangan pernah malu melakukan kesalahan dan kegagalan, tetapi malulah bila melakukan dosa

Kegagalan justru mengiring kita menuju kesuksesan. Lakukan 10 cara dan seluruhnya gagal total, coba lagi cara ke-11 dan masih gagal. Coba lagi, mungkin pada cara ke-12 atau ke-13, baru ditemukan cara yang berhasil. Oleh karenanya, jangan pernah takut gagal. Kegagalan adalah cara Tuhan untuk mendekatkan diri kita kepada keberhasilan.

Sebagian besar orang memaknai kegagalan sebagai hal yang memalukan dan mengecewakan. Padahal kesalahan dan kegagalan adalah hal yang patut disyukuri karena telah memberi pelajaran berharga. Pola pikir dan cara pandang seperti ini yang menyebabkan sebagian orang seperti memiliki energi, kekuatan, atau daya tahan yang luar biasa dalam menjalani proses dalam rangka mewujudkan apa yang diimpikan.

You have to give trading everything, believe you can do it, and give yourself enough time, you have a better chance of success.

Its thousands of hours of screen time that develops our subconscious thoughts and instincts.


Suatu hari nanti bila Pak Aras makin mendalami trading, kebijaksanaan akan timbul dalam diri. Trading sebenarnya mirip dengan kehidupan, hanya saja efeknya lebih instan daripada efek yang terjadi dalam kehidupan. Hal-hal buruk yang dilakukan dalam trading dalam waktu singkat akan menghasilkan hal buruk juga.

Sistem trading adalah pencerminan dari karakter dan pola pikir diri sendiri, oleh karenanya jangan pernah mencontek karena akan sia-sia tidak mencerminkan diri sendiri. Ciptakan yang sesuai dengan diri Pak Aras sendiri. Memang akan perlu waktu lama, tetapi kalau memiliki passion, maka waktu tidak lagi menjadi problem karena melakukannya dengan hati yang senang. Lihat saja anak kecil yang asyik bermain, sampai lupa waktu bukan?

Semoga Pak Aras dapat menjadi lebih paham dan terbantu dengan artikel ini.

Sabtu, 05 Februari 2011

Comparing Brokers (#3)

Pembandingan broker menemukan hal yang menarik, ternyata tidak semua broker melakukan negative balance protection.

Negative balance protection adalah proteksi agar saldo account yang dimiliki tidak langsung menjadi nihil akibat loss. Contoh sederhana perihal hal ini, misalnya melakukan entry buy EURUSD sebanyak 1 lot dengan leverage 1:100. Maka sebagian modal akan digunakan untuk membeli 1 lot seharga USD 1.355 (margin)sedangkan sebagian lagi digunakan untuk mengcover floating loss (free margin).

Apabila entry ternyata salah arah, maka free margin akan tergerus oleh floating loss. Akibatnya nilai margin level akan terus menurun sampai minimalnya di nilai 100%. Nah, apabila tercapai margin level 100% maka entry tersebut akan otomatis dipaksa untuk close oleh broker. Inilah yang disebut margin call atau negative balance protection.

Sehingga meskipun mengalami loss, tetapi dengan adanya negative balance protection, maka modal masih tersisa USD 1.355. Dengan kata lain, masih tersisa "puing-puing" modal dan tidak habis sama sekali.

Kemarin disengaja uji coba melakukan entry melawan trend dengan lot besar. Hasilnya ternyata terdapat 3 broker yang tidak menggunakan negative balance protection yaitu Askap, IBFX, dan Oanda seperti ditunjukkan gambar di bawah:





Terlihat pada gambar diatas bahwa nilai free margin menjadi minus. Hal ini akibat 3 broker diatas tidak secara otomatis menutup transaksi pada saat free margin nilainya 0 dan nilai margin level dibawah 100% seperti halnya broker-broker lainnya. Akibat hal ini akan sangat fatal, modal dapat habis sama sekali.

Oanda masih dapat dimaklumi dikarenakan penggunaan platform Metatrader baru diperkenalkan bulan ini. Oleh karena masih dalam masa percobaan, kesalahan seperti ini dapat dimaklumi. Yang diherankan adalah IBFX dan Askap, dimana keduanya adalah broker yang telah lama menggunakan platform Metatrader. Seharusnya mereka terapkan negative balance protection untuk melindungi kliennya dari kerugian yang lebih fatal.

Pembandingan broker juga menemukan bahwa terdapat broker yang melakukan pembedaan asal negara klien. Hal ini sangat mengherankan, kok bisa ya di jaman globalisasi seperti saat ini masih saja ada yang mengedepankan perbedaan negara asal. Broker seperti ini melakukan diskriminasi terhadap trader yang berasal dari negara-negara "blacklist".

Salah satu contohnya adalah broker Go Markets Australia (www.gomarketsaus.com) dengan tegas menolak calon klien asal Indonesia dengan alasan adanya aturan pencucian uang yang diterapkan oleh negara Australia. Berikut jawaban email yang diterima:



Alpari UK juga melakukan hal yang sama, diskriminasi dilakukan berdasarkan negara asal klien. Anehnya, Indonesia dan Malaysia justru dikategorikan sebagai kelompok negara-negara Timur Tengah (apa karena mayoritas muslim ya?). Perhatikan saja tabel perbandingan account Metatrader Micro dan Classic di bawah ini:

Terlihat dengan jelas pada tabel diatas bahwa diskriminasi dilakukan dengan cara menerapkan spread lebih tinggi berdasarkan negara asal klien. Heran, apa hubungannya negara asal dengan spread ya...

Tapi lucunya, demo Metatrader yang diberikan oleh Alpari tidak menggunakan demo Micro atau Classic account seperti tabel tersebut. Demo yang diberikan adalah untuk account Metatrader Pro yang menerapkan spread nyaris 0 (tetapi modal minimal harus sebesar USD 20 ribu). Sehingga demo account Alpari ini tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.

Oleh karena demo yang diberikan menggunakan spread nyaris 0, maka para calon klien yang mencoba demo akan merasa seolah-olah menggunakan Alpari sangat menguntungkan. Padahal kondisi sangat menguntungkan ini baru akan terjadi apabila menggunakan account Metatrader Pro dengan modal awal minimal harus sebesar USD 20 ribu. Bila modal awal tidak sebesar USD 20 ribu, maka yang diperoleh hanyalah account Micro atau Classic yang menerapkan diskriminasi spread sesuai tabel diatas.

Uji coba pembandingan yang dilakukan minggu ini hanyalah uji coba pengenalan demo account masing-masing broker. Adanya perbedaan leverage membuat sedikit rancu untuk menentukan jumlah lot yang tepat digunakan pada seluruh account. Uji coba lebih detil baru akan dilakukan pada minggu depan dimana juga akan dibandingkan dengan live account.

Hasil sementara dari uji coba adalah sebagai berikut:



Terlihat bahwa ada sebagian broker yang mengalami loss lebih besar. Hal ini dikarenakan broker-broker tersebut menerapkan spread atau komisi yang lebih tinggi daripada broker lain. Broker Go Markets Australia satu-satunya yang tidak melakukan entry dikarenakan demo Metatrader-nya mengalami loss connection dengan server.

Loss connection dengan server terjadi juga di broker lain, yaitu pada FxOpen dan Tadawul. Tetapi karena minggu ini hanyalah sekedar pengenalan account dan belum dilakukan uji coba detil, maka loss connection tersebut masih belum dapat dijadikan kesimpulan.

Yang menarik dari hasil sementara uji coba diatas, ternyata terdapat juga broker yang mengklaim dirinya sebagai ECN broker tetapi justru menerapkan spread yang lebih tinggi daripada broker bukan ECN. Ehm, dari hal ini dapat disimpulkan bahwa menyebut dirinya sebagai ECN broker hanyalah sekedar strategi marketing semata. Belum tentu yang menyebut sebagai ECN broker akan menguntungkan karena belum tentu menggunakan spread lebih rendah.

Hal seperti ini terjadi juga pada FXDD MTXtreme yang mana untuk mendapatkan account ini minimal deposit harus sebesar USD 5.000 dengan promosi bahwa spread akan lebih kecil daripada account Metatrader Mini dan Standard.



Tetapi fakta yang ditunjukkan pada tabel pembandingan diatas memperlihatkan bahwa FXDD MTXtreme justru mengalami loss yang sedikit lebih tinggi daripada account FXDD Malta. Kemungkinan besar hal ini dikarenakan spread MTXtreme lebih tinggi daripada FXDD Malta, wah... kok tidak sesuai dengan promosinya :)

Broker yang masih menggunakan platform 4 digit cenderung lebih merugikan dikarenakan pembulatan yang dilakukan. Sebagai contoh, misalnya loss 7,5 pip maka oleh broker 4 digit akan dibulat menjadi 8 pip. Hal ini sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi menguntungkan apabila mampu konsisten melakukan profit diatas 0,5 pip dan loss dibawah 0,5 pip.

Sebagai contoh, tiap kali profit mencapai diatas 0,5 pip (7,5 pip, 10,6 pip, 11, 7 pip) maka entry langsung di close. Sedangkan bila terjadi loss harus diusahakan agar selalu dibawah 0,5 pip (7,4 pip, 10,3 pip, 11, 2 pip). Bila mampu melakukan hal tersebut maka profit akan selalu dibulatkan ke atas dan loss akan selalu dibulatkan ke bawah, menjadi lebih menguntungkan bukan? Akan tetapi, siapa yang mampu terus menerus seperti itu bila trading manual, hanya bisa terjadi apabila trading menggunakan robot :)

Kesimpulan sementara dari hal-hal diatas, apabila Anda adalah retail trader yang bermodal kecil, maka trading akan menjadi lebih sulit untuk profit dikarenakan tingginya spread. Modal besar dapat membuat Anda memiliki account yang benar-benar menerapkan spread minimal, sehingga profit akan lebih cepat diperoleh. Sebagai contoh, apabila memiliki account Alpari Metatrader Pro yang memerlukan modal minimal USD 20 ribu dimana spread nyaris 0, tentunya profit menjadi lebih mudah didapat.

Akan tetapi, oleh karena uji coba pembandingan broker ini bertujuan untuk menemukan retail broker terbaik, tentunya Alpari dengan modal minimal USD 20 ribu bukanlah pilihan. Karenanya, uji coba ini akan dilanjutkan minggu depan sehingga pada akhirnya dapat ditemukan retail broker terbaik yang memberikan spread minimal dan tidak memerlukan modal awal besar.

Agar pembandingan dapat lebih detil lagi, disamping digunakan demo account, juga akan disandingkan dengan live account. Entry dan exit akan dilakukan secara manual. Akan digunakan 1 buah Master dan 20 buah Slave, yang terdiri dari 18 buah demo account dari berbagai broker seluruh dunia dan 2 buah live account.



Kita pantau bersama bagaimana hasilnya.