Minggu, 12 September 2010

Kenangan

Suatu siang beberapa hari yang lalu, saya bermimpi sangat indah sekali. Saya merasa kembali ke umur 10 tahun yang sedang diajak oleh ibu berjalan-jalan di pasar dekat rumah pada saat masih tinggal di Surabaya dahulu.

Suasana pasar sangat ramai sore itu, ibu mengajak berkeliling kesana kemari melihat-lihat berbagai barang di pasar. Bahkan kemudian ibu membelikan permen kesukaan saya di satu toko di pasar tersebut. Wah... senang sekali rasanya hati ini.

Sayang, kemudian saya terbangun dan lenyaplah mimpi indah itu. Tapi rasa senang dan bahagia di dalam hati tetap melekat. Kalau saja waktu bisa diputar kembali, saya ingin kembali masa kanak-kanak yang bahagia itu dan kembali bisa berjalan-jalan bersama ibu.

Rasa kangen untuk bertemu ibu sangat terasa di hati.

Repotnya, saya sudah tidak bisa lagi menelepon atau memeluk dan mencium pipi ibu. Beliau sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Rasanya sedih sekali, merasa kangen tetapi tidak bisa bertemu. Yang dapat saya lakukan hanyalah duduk terpekur di pinggir ranjang dan berdoa bagi beliau.

Terima kasih Tuhan, telah memberi ibu yang begitu menyayangi dan telah banyak memberi kenangan.

Kenangan yang sangat indah yang selalu menyatu di hati dan selalu dikenang dalam mimpi. Kenangan berjalan-jalan di pasar hanyalah hal sederhana yang dahulu sering kami lakukan. Menjadi sangat indah karena dalam mimpi itu ibu mengandeng saya dengan erat, mengelus kepala saya dengan kasih, dan memandang dengan sorotan mata bangga.

Saya merasa sangat beruntung memiliki ibu seperti beliau, sekaligus juga merasa bersalah kepada anak-anak saya karena merasa belum banyak kenangan indah yang dapat saya berikan kepada mereka.

Kesibukan dan rutinitas menjadikan waktu habis untuk meyelesaikan kerepotan kita sendiri dan melupakan anak-anak. Memang kita bersama dengan mereka dalam satu rumah tetapi tidak ada kualitas kerbersamaan sehingga waktu berlalu dengan cepatnya tanpa mereka memiliki kenangan indah akan orangtuanya.

Kebanyakan dari kita, baru menyadari betapa berharganya sesuatu apabila telah kehilangan.

Jangan tunggu hal itu terjadi.

Bila Anda masih memiliki orang tua, sayangi mereka dan dekatkan diri sebanyak mungkin sebelum nantinya berpisah. Tidak ada yang abadi, perpisahan selalu akan terjadi, oleh karenanya puaskan diri bersama mereka sebelum hal itu terjadi. Dengan demikian, Anda tidak akan menyesal bila akhirnya harus berpisah. Anda akan bisa tersenyum mengikhlaskannya bila waktu perpisahan telah tiba karena sudah tidak ada rasa sesal di hati.

Jangan tunda sampai anak-anak menjadi besar dan mandiri. Semakin anak-anak besar, maka semakin jauh mereka dari kita karena mereka telah memiliki kehidupan mereka sendiri.

Saat terbaik memberi banyak kenangan indah adalah saat mereka masih kanak-kanak dimana hidupnya masih tergantung kepada orang tuanya. Luangkanlah waktu untuk bersama dengan mereka, lakukan hal-hal sederhana bersama, tanpa disadari hal tersebut nantinya akan dikenang seumur hidupnya.

Hidup ini sebab akibat.

Perbuatan atau tindakan yang kita lakukan sebenarnya ibarat melempar bumerang, yang suatu saat nanti akan kembali lagi kepada diri kita. Bila tidak ingin hal buruk menimpa di masa mendatang, selalu lemparlah bumerang dengan niat baik.

Perhatikan anak-anak yang dididik dengan kekerasan. Mereka terbiasa menyimpan dendam, amarah, sehingga hanya hal buruk sajalah yang ada di kenangan mereka. Akibatnya, begitu merasa besar dan kuat, maka mereka akan semaunya sendiri dan tidak ada rasa hormat kepada orang tuanya. Jadi jangan heran, kalau pernah mendengar berita seorang anak membunuh ayah kandungnya, dia tega karena yang ada hanyalah kenangan buruk.

Oleh karenanya, banyaklah melempar bumerang dengan niatan baik dan berikanlah banyak kenangan indah bagi anak-anak, istri, saudara, teman, sahabat, tetangga, dan orang di sekeliling Anda, agar mereka nantinya mengenang Anda dengan baik.

Sahabat saya pernah berkata, lebih baik berhenti dan mencari pekerjaan lain daripada suatu saat harus pindah kerja ke luar kota dan berpisah dengan si kecil.

Mendengar hal tersebut, dalam hati saya merasa betapa beruntungnya si kecil memiliki ayah seperti sahabat saya ini. Tentunya bila si kecil sudah besar nanti, akan banyak sekali kenangan indah perihal betapa hebat dan sayang ayahnya terhadap dirinya.

Seandainya saja semua anak memiliki ayah seperti sahabat saya ini, tentunya dunia akan menjadi lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar