Sabtu, 23 Juli 2011

Naked Trading

Selamat pagi,

Setelah sekian lama berkutat dengan programming yang terus menerus bikin saya makin kerepotan, saatnya saya beristirahat dulu untuk sesaat :)

Gak terasa sudah lama juga saya gak mengunjungi blog Andromeda ini. Apa kabarnya, Pak? Semoga selalu dalam keadaan sehat.

Terakhir kunjungan adalah saat saya membutuhkan bantuan tentang VPS. Hingga saat ini jasa tersebut masih lancar saja termasuk cara penggunaan seperti yang telah disarankan oleh Pak Ary sendiri.

Beberapa waktu ini saya teringat saat dulu melakukan manual trading dengan berbagai macam indikator untuk menuntun trading sehingga sebuah keputusan dapat diambil dengan baik. Seperti diketahui bersama, bahwa setiap indikator memiliki keunikan dan karakteristiknya masing-masing. Indikator untuk menentukan Trend, Volume, dan lainnya tentu terkadang memberikan sebuah pengertian yang berbeda satu sama lain, tapi juga dapat saling melengkapi untuk membantu memberikan informasi yang akurat.

Setelah 'bergumul' dengan berbagai macam indikator, barulah saya memfokuskan diri pada beberapa indikator yang saya anggap reliabel untuk digunakan pada EA. Sampai saat ini memang masih dalam tahap 'pembangunan' terus :)

Selain itu, indikator penggunaan Candlestick Pattern dapat menjadi pilihan dalam trading.

Membaca pergerakan chart hanya dengan melihat pola pergerakan candlestick membutuhkan pengetahuan tambahan tentang candlestick itu sendiri sehingga mampu mendapatkan informasi yang cukup untuk melakukan trading. Istilah yang sering saya dengar adalah 'naked trading'.

Memang jadi aneh jika diterjemahkan secara langsung ke bahasa Indonesia :) Tapi intinya melakukan trading hanya mengandalkan chart saja.

Dikarenakan candlestick berasal dari Jepang tentunya banyak istilah-istilah dalam bahasa tersebut seperti doji, harami, dan lainnya yang kebetulan sudah diterjemahkan oleh Steve Nison (penulis buku Japanese Candlestick) ke dalam bahasa Inggris seperti Three White Soldier, Engulfing, Piercing, dan lainnya.


Cover depan Japanese Candlestick Charting Techniques

Kira-kira ada lebih dari belasan pattern yang dapat digunakan untuk menentukan arah market yang dibagi dalam Bullish, Bearish, dan Neutral Pattern.

Masing-masing trend market tersebut masih dibagi lagi ke dalam Reversal dan Continuation Patterns, dan masing-masing bentuk tersebut masih dibagi lagi ke dalam tingkat High, Medium, dan Low Reliability. Memang agak membingungkan karena banyak sekali patterns tersebut tapi setidaknya ada beberapa bentuk yang bisa dipelajari dan diingat.

Untuk mempelajari masing-masing pattern secara lebih detil dapat dilihat pada website Candlesticker. Nah, kebetulan Steve Nison memiliki website pribadinya di www.candlecharts.com dan beliau sudah memulai pengajarannya tersebut dari awal tahun 90-an.

Dalam websitenya, Steve menawarkan sebuah produk DVD yang berisikan tentang pengajarannya menggunakan Candlestick kedalam Forex yang berjudul Profiting in Forex DVD Workshop seharga $495 :( Yah, memang mahal sekali jika hanya untuk menonton video workshop tentang Candlestick. Itupun sudah didiskon dari harga sebelumnya yang mencapai $995 :(

Tentunya seperti yang Pak Ary pernah jelaskan dalam salah satu artikel di blog ini bahwa internet adalah alat tempat untuk mencari segala sesuatunya dengan mudah, termasuk yang gratis. Untuk mendownload (secara ilegal tentunya :) ) DVD Workshop tersebut cukup mudah, silahkan klik disini dan video sepanjang lebih dari 6 jam tersebut bisa dipelajari (beberapa link masih aktif). Sebagai catatan: jika ada bagian/part yang rusak saat melakukan extraction, dapat diperbaiki menggunakan fasilitas Repair pada WinZip atau WinRar.

Sayangnya, seorang ahli seperti Steve Nison yang juga humoris pun masih menggunakan offline chart dalam workshopnya tersebut. Saya ingat Pak Ary pernah menjelaskan betapa pentingnya melakukan metode belajar dengan menggunakan online chart karena kualitas materi pengajaran dan tentunya kualitas sang pengajar itu sendiri dapat dibuktikan seketika itu juga.

Masih beruntung Steve memberikan suatu metode mengenai Risk Reward Ratio jadi walaupun chart yang digunakan offline, ia tetap menuntut digunakannya Stop Loss dalam setiap transaksi untuk membatasi kerugian. Setidaknya dengan cara inilah seorang pengajar dapat beralibi :)

Strategi ini menuntut seorang trader untuk memantau pergerakan chart dalam jangka waktu yang agak lama di depan monitor komputer karena dibutuhkan sebuah momen dan intuisi yang baik untuk membuat sebuah keputusan trading. Tidak mudah untuk menemukan sebuah Pattern yang tepat untuk dijadikan sebuah alasan untuk Entry atau pun Exit Market. Untuk menentukan titik Support/Resistance pun mewajibkan seorang trader untuk menganalisa history chart beberapa periode tertentu.

Agak sulit bagi yang belum terbiasa melakukan analisa tanpa indikator. Tapi untuk menambah semangat dalam belajar, strategi ini bisa diterapkan di Alpari Trading Contest siapa tahu bisa jadi juara pertama lantaran hanya iseng-iseng saja khan? :)

Dikarenakan penggunaan strategi ini yang kurang efisien dalam hal waktu, saya berpikir apakah mungkin jika strategi tersebut dapat diterapkan ke dalam bentuk Expert Advisors. Bagaimana menurut Pak Ary?

Tentunya hal tersebut harus menggunakan logika dan algoritma yang lebih rumit ya apalagi dalam strategi ini harus dapat menentukan titik Support dan Resistance yang ada pada chart (tanpa perlu menggunakan Pivot Point tentunya dikarenakan harus melihat karakteristik market beberapa kurun waktu tertentu sebelumnya yang dinamis).

Tanpa bermaksud untuk mengubah atau mengganggu konsep trading yang sudah ada sebelumnya, informasi ini hanyalah sebagai pelengkap saja untuk pembaca blog lainnya dan siapa tahu bisa menjadi masukan tambahan yang baik untuk strategi yang digunakan Pak Ary saat ini :)

Regards,
Aras




Pak Aras,

Saat saya masih duduk di bangku SMA dahulu, hanya kaset yang digunakan sebagai media distribusi musik. CD maupun DVD yang menggunakan teknologi digital belum dikenal, saat itu hanya teknlogi analog berupa kaset yang ada.

Dikarenakan keuangan serba terbatas, maka kami sering melakukan copy kaset milik teman sebagai alternatif daripada harus membeli kaset asli di toko musik yang harganya mahal. Tentunya hasil copy tidaklah sebaik aslinya, itulah kelemahan teknologi analog. Berbeda dengan saat ini dimana telah digunakan teknologi digital sehingga apapun yang dicopy akan sama persis dengan aslinya (bahkan kadangkala lebih bagus dikarenakan pada bajakannya ditambahkan lagi berbagai macam hal :) ).

Hal inilah yang kemudian mengakibatkan pembajakan marak, ditambah lagi dengan berkembangnya teknologi internet sehingga distribusi dapat dilakukan dengan mudah. Tidak perlu lagi seperti dahulu dimana harus repot dan berpanas-panas ria pergi ke Glodok untuk mencari CD bajakan :) Cukup lakukan Googling saja dan kemudian download maka sudah kita peroleh produk bajakan dengan cara yang cepat dan murah meriah.

Saat ini apapun dapat diperoleh dengan gratis dan cepat dari internet, mulai dari buku, komik, musik, film, software, bahkan sampai film porno :) DVD atau buku pembelajaran di bidang apapun juga dapat dengan mudah diperoleh gratis. Tidak perlu lagi harus mengeluarkan uang banyak untuk membelinya, asalkan rajin melakukan Googling maka versi bajakan yang gratis dapat dengan mudah diperoleh.

Sebagai contoh, coba saja klik disini dan kemudian lakukan browsing halaman demi halaman, apapun yang ingin dipelajari tersedia seluruhnya dengan gratis. Mulai dari DVD pembelajaran yoga, piano, gitar, berkebun, kebugaran diri, hipnotis, marketing, bela diri, graphic design, programming, trading, bahkan sampai pembelajaran mencari jodoh :) Seluruhnya tersedia gratis, yang perlu dilakukan hanyalah mendownloadnya dan kemudian meluangkan waktu untuk mempelajarinya.

Internet memberikan berkah bagi kita yang tinggal di negara berkembang yang pendapatan perkapita-nya masih rendah. Informasi dan pembelajaran yang dahulunya hanya dapat dinikmati oleh yang berpenghasilan tinggi dikarenakan harganya sangat mahal, maka saat ini telah tersedia gratis seluruhnya di internet. Hal ini menjadikan kita tidak lagi kalah dengan negara maju dikarenakan kita dapat belajar ilmu apapun dengan cara yang murah.

Bayangkan apabila tidak ada bajakan dan harus membeli produk original, harga software Windows 7 Ultimate saja sudah Rp 1,9 juta, harga Windows Enterprise Server 2008 Rp 24 juta, harga Office 2010 Professional Rp 4,2 juta, harga Adobe Acrobat 9 Professional Rp 3,7 juta dan harga Adobe CS5 Design Premium Rp 16 juta (klik disini untuk melihat detil harga software-software tersebut).

Coba kalau kita harus membeli dengan harga semahal itu, kapan bangsa ini akan menjadi pintar? Membeli komputer saja sudah sulit, apalagi harus ditambah dengan membeli software semahal itu.

Internet telah membuka jalan bagi kita untuk menjadi pintar dan tidak kalah dengan bangsa lain, asalkan bersedia untuk belajar. Saat ini seluruhnya tersedia di internet dengan gratis dan dengan mudahnya dapat di download.

Tentunya Pak Aras masih ingat sekitar tahun 2000an dimana Cina sangat dikecam akibat pembajakannya yang gila-gilaan. Seluruhnya dibajak oleh Cina, mulai dari baju, tas, software, film, musik. Tetapi lihat Cina saat ini, menjadi negara maju dengan kekuatan ekonomi yang nyaris mengalahkan Jepang. Sehingga dari hal ini dapat disimpulkan bahwa pembajakan yang dahulu dilakukan oleh Cina hanyalah sekedar proses belajar dengan cara murah untuk membentuk kekuatan yang haslnya saat ini dapat kita lihat bersama.

Yang sangat saya kagumi dari Cina adalah semangat belajar mereka. Seperti diketahui, di Cina tidak digunakan huruf latin tetapi digunakan huruf Cina sebagai huruf yang dibaca sehari-harinya. Bayangkan betapa kerasnya semangat belajar mereka, harus mengubah kemampuan membaca dari yang semula huruf Cina menjadi huruf latin agar dapat mempelajari produk negara-negara maju. Betapa hebatnya!

Bayangkan kita sendiri, yang sehari-hari sudah menggunakan huruf latin dan tidak perlu lagi melakukan adaptasi seperti di Cina, tentunya lebih mudah untuk belajar. Kelemahan kita hanyalah terletak pada kemampuan berbahasa Inggris dikarenakan seluruh produk pembelajaran terebut menggunakan bahasa Inggris.

Tetapi kenapa bangsa kita tetap begini-begini saja padahal hanya kalah satu langkah (bahasa Inggris) saja daripada Cina (abjad dan bahasa Inggris)? Bangsa Cina lebih fokus dan lebih bersemangat daripada kita, itulah yang menyebabkan sampai saat ini kita hanya menjadi begini-begini saja :(

Semoga saja 5 atau 10 tahun ke depan banga ini dapat lebih maju. Apalagi saat ini seluruhnya telah tersedia dengan cepat dan murah di internet, tinggal kitanya sendiri yang diminta untuk bersemangat dan fokus menempa diri.

Naked trading adalah cara trading dimana sama sekali tidak menggunakan indikator, sepenuhnya berpatokan hanya pada candlestick. Pada umumnya yang melakukan naked trading adalah trader-trader veteran yang memiliki pengalaman lebih dari 5 tahun.

Pengalaman sangat menentukan disini dikarenakan untuk dapat melakukan naked trading harus hafal betul pola-pola candlestick yang terjadi. Penghafalan tersebut baru dapat terjadi apabila telah memiliki pengalaman berada di market yang cukup sehingga hafal pergerakan harga.

Seperti yang ditulis sebelumnya, trading adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang professional di bidang ini. Pembentukan profesionalisme tersebut dapat diibaratkan seperti halnya pendakian ke puncak gunung.

Kita mendaki pelan-pelan dari bawah, bila capek maka lakukan istirahat sejenak agar dapat meneruskan pendakian kembali. Semangat, fokus, dan konsistensi yang diperlukan disini agar tidak pernah putus asa apabila mengalami kedinginan, kelaparan, jatuh ke jurang, atau terkena badai saat melakukan pendakian tersebut.

Jalur pendakian pun berbeda-beda, ada yang mudah dikarenakan landai (menggunakan indikator), tetapi ada juga yang sangat sulit dikarenakan jalurnya sangat terjal (naked trading). Seorang pendaki pemula tentunya tidak akan langsung mencoba melalui jalur terjal, tetapi berlatih dahulu menggunakan jalur yang landai. Bila nantinya telah berhasil beberapa kali mencapai puncak menggunakan jalur landai, maka ada baiknya beralih mencoba menggunakan jalur terjal.

Bayangkan apabila pendaki pemula tersebut sejak awal sudah langsung menggunakan jalur terjal, mungkin baru mencapai sepersepuluh jalan saja sudah putus asa dikarenakan tidak tahan menghadapi sulitnya medan.

Oleh karenanya, beberapa kali saya menyarankan kepada Pak Aras untuk mencoba melakukan manual trading terlebih dahulu dan tidak terburu-buru membuat EA. Lakukan saja manual trading terus menerus sampai hafal betul polanya dan kemudian baru buat EA-nya. Percuma dan buang-buang waktu saja apabila manual trading masih amburadul tetapi memaksakan diri untuk segera membuat EA. Karena sudah dapat dipastikan bahwa EA yang dibuat amburadul juga :)

Sama halnya dengan naked trading, jangan terburu-buru dahulu. Lakukan saja manual trading dengan masih menggunakan indikator (asalkan jangan terlalu banyak). Perlahan-lahan belajar juga mulai memahami pergerakan candlestick sehingga nantinya dapat melakukan naked trading.

Perlu dipahami bahwa belajar apapun dapat diibaratkan seperti halnya pendakian gunung. Dimulainya selalu dari bawah dan perlu proses serta waktu agar dapat mencapai puncak.

Teknologi saat ini menyebabkan kita dapat memperoleh segala sesuatu dengan cepat dan instant. Hal ini akhirnya juga mengubah pola pikir kita, kalau ingin cepat mencapai puncak gunung kenapa harus capek-capek mendaki, kenapa tidak sewa helikopter saja :)

Masalahnya, tidak ada satupun helikopter yang dapat disewa untuk mempercepat proses belajar :)

Hanya 1 cara yang dapat dilakukan yaitu cara konvensional yang perlu proses dan waktu lama. Oleh karenanya dibutuhkan semangat, fokus, dan konsistensi agar kita tetap mampu melewati segala rintangan dan kegagalan.

Pak Aras juga menyebutkan tentang efisiensi waktu. Saran saya, hilangkan pemikiran soal efisiensi waktu apabila ingin mencapai puncak.

Logikanya sederhana, bayangkan seandainya Pak Aras adalah seseorang yang baru berada di Jakarta dan sama sekali tidak hafal jalan. Suatu hari ingin bepergian dari tempat tinggal Pak Aras di Pancoran menuju ke Monas. Tentunya saat awal tersebut Pak Aras akan mencari jalan termudah yaitu melewati jalan-jalan protokol (yang macet) yaitu dari jalan Gatot Subroto, Semanggi, jalan Sudirman, jalan Thamrin, dan kemudian sampailah ke Monas.

Tetapi dengan berjalannya waktu, Pak Aras nantinya akan mencoba berbagai jalan tikus menuju Monas sehingga pada akhirnya hafal 1001 jalan alternatif. Nah, bila hal tersebut telah terjadi, barulah berpikir soal efisiensi waktu, jalan mana yang tercepat menuju Monas.

Dalam proses belajar, jangan pernah berpikir untuk belajar dengan cara sesingkat mungkin dan tidak mau berlama-lama di depan monitor memperhatikan chart. Ingat, tidak ada satupun helikopter yang dapat dengan cepat membawa diri kita ke puncak :)

Yang dapat membawa ke puncak hanyalah kedua kaki kita dan semangat membara dalam diri.

Untuk itulah kita perlu berlama-lama memperhatikan chart, ini untuk melatih agar kaki tidak mudah kram, keseleo, dan mudah capek. Perhatikan saja pendaki-pendaki gunung, sebelum melakukan pendakian mereka berlama-lama berlatih dahulu baru setelah merasa siap, pendakian dilakukan. Itupun masih saja terjadi kegagalan padahal latihan dan persiapan yang dilakukan sudah cukup baik. Nah, bagaimana jadinya kalau tidak mau berlama-lama berlatih?

Belajar trading dapat diibaratkan seperti sebuah penjelajahan. Kita menjelajah dari satu sistem ke sistem lain, mencoba satu demi satu. Nanti pada waktunya Pak Aras akan menemukan sebuah sistem yang cocok untuk diri Pak Aras. Oleh karenanya, bila saat ini merasa malakukan naked trading sulit dan tidak cocok dengan kepribadian, sebaiknya tinggalkan saja.

Seperti ditulis diatas, naked trading hanyalah cocok bagi mereka yang sudah veteran dalam bidang ini dikarenakan harus hafal betul pola. Jangan memulai dari puncak, karena akan putus asa sendiri karena sulitnya. Lebih baik mulai dari bawah, dari yang mudah dahulu dan kemudian baru perlahan-lahan mendaki menuju yang lebih sulit.

Strategi tersebut dapat saja diubah menjadi EA, meskipun agak rumit dikarenakan diperlukan kemampuan advanced programming. Bila Pak Aras kerepotan dengan programming-nya, dapat menyewa programmer professional.

Tetapi dalam programming, memprogram sendiri atau menyewa programmer, harus ada aturan (rule) yang jelas perihal strategi tersebut. Pak Aras harus paham betul Entry Rule, Exit Rule, nilai Stoploss yang efisien, dan berbagai hal lainnya agar dapat dibuatkan programnya.

Programming adalah pekerjaan logic dimana harus jelas kriterianya. Tidak bisa hanya dengan modal "pokoknya programin DVD Steve Nison ini" :) Pak Aras harus menemukan terlebih dahulu pattern yang paling profitable daripada pattern-pattern yang lain. Setelahnya juga harus menentukan kapan timing entry dan exit-nya, baru setelah jelas semua rule dan kriteria-nya, EA dapat dibuat.

Sehingga kalau saat ini masih bingung menentukan pattern yang tepat, sebaiknya lakukan manual trading terlebih dahulu. Manual trading ini akan membantu agar Pak Aras memahami apakah pattern tersebut betul-betul terbukti profitable di real market dan tidak hanya sekedar profitable di workshop Steve Nison :)

Tahukah Pak Aras bahwa seminar atau workshop menghasilkan jauh lebih banyak daripada real trading sendiri?

Real trading mengandung resiko, bila entry tidak benar maka loss akibatnya. Tetapi workshop atau seminar sama sekali tidak mengandung resiko. Modalnya hanya slide dan projector saja, hotel dan akomodasi bisa dipesan nanti bila sudah jelas pesertanya akan banyak :)

Seminar atau workshop adalah tambang emas melebihi real trading sendiri.

Perhatikan saja Steve Nison ini, namanya cukup populer di bidang trading. Tentunya workshop yang diadakannya akan penuh peserta. Ditambah lagi dengan penjualan DVD-nya, yang dapat dibeli oleh siapapun di seluruh penjuru dunia yang tidak terjangkau oleh workshop-nya. Tanpa melakukan real trading pun, hasil dari workshop dan DVD sudah cukup banyak :)

Disini pun sama saja, perhatikan saja iklan workshop atau seminar trading di koran. Seperti jamur di musim hujan dikarenakan mereka paham betul potensi workshop jauh lebih besar daripada trading dan sama sekali tidak beresiko. Herannya, semakin mahal sebuah workshop justru semakin ramai peserta :)

Workshop atau seminar sebenarnya mengisi celah di pasar. Kebanyakan orang malas belajar dan ingin cepat menjadi kaya raya dari trading. Celah inilah yang dimanfaatkan oleh workshop atau seminar tersebut, menjanjikan jalan pintas. Seolah-olah dengan membayar mahal, sepulang dari workshop besoknya sudah dapat menghasilkan jutaan Rupiah dari trading.

Padahal faktanya, coba saja tanya teman atau famili yang pernah mengikuti seminar atau workshop. Atau bila masih penasaran, coba download DVD workshop Steve Nison yang link download-nya diberikan Pak Aras diatas atau bisa juga dari alamat ini. Toh menonton DVD ini sama saja dengan mengikuti workshop sungguhan, tidak ada bedanya dengan workshop real.

Nah, setelah menonton DVD Steve Nison tersebut, mampukah Anda besoknya menghasilkan profit jutaan Rupiah dari trading?

Yang pasti, yang dialami adalah loss dan bukan profit :) Kebanyakan workshop atau seminar berpromosi setinggi langit agar banyak peserta yang tertarik dan mengikutinya. Tetapi jangan pernah berharap setelah mengikutinya, dalam waktu singkat sudah menjadi trader jagoan :)

Seperti kalimat sebuah iklan rokok di televisi "Sukses adalah sebuah pencapaian". Kota Roma tidak dibangun dalam semalam, perlu sebuah proses dan waktu yang panjang agar dapat menggapainya.

Dalam workshop yang ditampilkan selalu offline chart. Itulah kenapa workshop selalu diadakan pada hari Sabtu Minggu pada saat market tutup. Dengan begitu pembicaranya dapat beralasan bahwa digunakan offline chart dikarenakan market sedang tutup.

Tahukah Anda perbedaan antara offline dan online chart?

Offline chart hanya memerlukan kemampuan analisa, tidak memerlukan kemampuan reaksi dan prediksi. Itulah kenapa dalam workshop selalu digunakan offline chart dikarenakan siapapun yang pernah belajar technical analisys tentunya sudah pasti mampu menjelaskan apa yang ditampilkan pada chart tersebut.

Berbeda dengan online chart yang bergerak cepat, disamping diperlukan kemampuan analisa atas data yang lampau, juga diperlukan kemampuan prediksi kemana arah selanjutnya dan kemudian diperlukan juga kemampuan reaksi untuk melakukan entry exit dengan timing yang tepat.

Yang paling menentukan dalam sebuah trading adalah kemampuan reaksi cepat dalam kondisi apapun. Kebanyakan mampu bereaksi cepat bila profit, tetapi jarang sekali yang mampu bereaksi cepat saat loss (agar loss minimal). Pada saat loss, kebanyakan terpaku diam dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Kebanyakan hanya berharap-harap cemas dan berdoa mati-matian agar trend kembali ke arah semula dan entry yang saat ini loss dapat berubah menjadi profit.

Nah, sudah jelas bukan bedanya :)

Oleh karenanya jangan pernah berharap mengikuti workshop mahal kemudian setelahnya menjadi trader jagoan. Yang diajarkan pada workshop tersebut hanyalah 1 hal saja (analisa). Bahkan belum tentu si pembicara workshop tersebut mampu melakukan real trading dengan baik dikarenakan kemampuan yang dimilikinya hanya terbatas pada 1 hal saja :)

Padahal dalam trading diperlukan 3 hal yang menyatu dalam diri agar dapat sukses, yaitu kemampuan analisa, prediksi, dan reaksi.

Ilmu trading dapat diperoleh dengan gratis seluruhnya dari internet. Lebih baik hemat uang dan gunakan internet sebagai tempat belajar daripada mengikuti workshop yang mahal-mahal. Meskipun kebanyakan workshop menjanjikan Anda kaya raya dalam waktu singkat dari hasil trading, tetapi faktanya yang menjadi kaya raya bukanlah Anda, tetapi si pembicara workshop :)

Demikian Pak Aras, semoga tulisan ini dapat membantu agar dapat lebih fokus belajar trading. Terima kasih sebesar-besarnya telah bersedia menulis untuk blog ini, semoga tidak pernah bosan menulis untuk blog ini dan saya tunggu tulisan Pak Aras selanjutnya.

Mohon maaf apabila saya agak lamban membalasnya dikarenakan akhir-akhir ini tugas kantor menuntut harus banyak bepergian ke luar kota. Akibat hal ini, waktu untuk menulis maupun waktu untuk melakukan trading menjadi banyak tersita.

Semoga saja hal ini tidak berlangsung lama sehingga nantinya saya dapat menulis lebih banyak untuk blog ini dan dapat membantu seluruh pembaca agar lebih paham perihal hitam putihnya dunia trading.

Salam,
Andromeda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar