Jumat, 02 Desember 2011

Don't marry with your trade

Selamat Malam Pak Ary,

saya mau menanyakan maksud dari kalimat "don't marry with your trade"

itu apa pak secara jelasnya. Berarti kita gak boleh serius, meresapi, dan memprioritaskan trading dong pak karna akan jadi beban.

Mohon penjelasannya pak
terima kasih banyak atas bantuannya.

Salam,
Irfansyah




Pak Irfansyah,

Ehm, pertanyaan Pak Irfansyah adalah pertanyaan yang berkaitan dengan trading psycology.

Untuk menjadi trader yang baik, disamping harus memahami technical analysis, juga harus memiliki pemahaman perihal trading psycology. Nantinya dengan berjalannya waktu maka Pak Irfansyah akan memahami bahwa psikologi justru lebih memegang peranan utama daripada pengetahuan technical analysis.

Melakukan trading adalah pekerjaan yang menuntut untuk terus menerus mengedepankan pikiran logis dan sama sekali tidak diperkenankan adanya emosi. Oleh karenanya, jarang sekali seorang wanita mampu menjadi trader yang baik :)

Mengedepankan pikiran logis dapat diartikan harus melakukan tanpa perasaan dan tepat waktu seperti layaknya mesin. Harus disiplin, tidak boleh mengedepankan nafsu serakah, tidak boleh marah-marah apabila mengalami loss dan kemudian entry selanjutnya ngawur karena ingin balas dendam, dan lain sebagainya.

Sebagai manusia biasa, tentunya sangat sulit melakukan hal tersebut. Kadang kala timbul nafsu, kadang kala tidak disiplin, kadang kala tidak teliti, dan hal-hal lain yang wajar dilakukan oleh manusia normal. Hanya saja, tiap kali kita mengikuti nafsu dan emosi maka biasanya yang terjadi adalah mengalami loss karena "dihajar" oleh market :(

Saya maklum bila saat ini Pak Irfanyah belum dapat memahaminya. Dikarenakan saat ini yang ada dalam pikiran Pak Irfansyah, yang utama bukanlah psikologi tetapi trading system dan pengetahuan technical analysis.

Nanti kalau Pak Irfansyah sudah bergelut cukup lama di dunia trading ini akan lebih bisa memahaminya :)

Segala hal perlu proses, ada waktunya nanti dimana Pak Irfansyah telah meninggalkan anak tangga trading system dan kemudian menginjak anak tangga baru yang dinamakan trading psycology. Barulah Pak Irfansyah akan memahaminya.

Pada prinsipnya, trading system dapat diibaratkan seperti sebuah pistol. Saat ini Pak Irfansyah masih berusaha memilih-milih pistol yang cocok untuk diri Pak Irfansyah. Nantinya bila yang cocok sudah ditemukan maka Pak Irfansyah akan mulai belajar untuk menembak. Nah, agar dapat jitu maka perlu kepala dingin dan hati yang tenang. Sebagus dan semahal apapun pistol yang digunakan tidak akan ada gunanya bila Pak Irfansyah tidak dapat menjaga agar kepala tetap dingin dan hati tenang.

Disitulah pentingnya psikologi.

Psikologi adalah pengetahuan yang dipahami oleh diri kita yang digunakan sebagai modal untuk menjaga hati dan kepala agar tetap dingin dalam kondisi apapun.

Maksud yang sebenarnya dari kalimat "don't marry with your trade" bukanlah seperti yang dipersepsikan oleh Pak Irfansyah. Arti yang benar adalah jangan terlalu setia dengan entry yang dilakukan saat ini.

Kebanyakan trader pemula, sangatlah setia dengan entry yang dilakukannya.

Perhatikan saja, kalau entry sedang profit maka berharap profitnya akan lebih banyak lagi. Eh... ternyata trend berbalik arah dan entry yang semula sudah floating profit akhirnya menjadi floating loss :)

Tidak hanya itu saja, entry yang salah sehingga mengalami floating loss juga setia ditungguin. Sampai-sampai akhirnya kena margin call :)

Dua contoh diatas adalah yang banyak terjadi pada trader pemula sehingga akhirnya timbul kalimat "don't marry with your trade". Kalau sudah saatnya take profit ya segera lakukan dan jangan pernah sesali bila setelahnya candle membumbung tinggi. Kalau sudah loss ya segera exit dan jangan setia menunggu sampai akhirnya loss menjadi sebesar gajah :)

Itulah contoh bekerja tanpa perasaan dan emosi. Kalau sudah saatnya, segera lakukan dan buang segala macam emosi. Tidak boleh disayang-sayang, tidak boleh serakah, harus tepat waktu, disiplin, dan segala hal lainnya dimana kita melakukannya seperti layaknya mesin.

Nah, sulit bukan?

Karena setelah melakukan trading, kita harus berubah lagi kembali menjadi manusia biasa yang harus menggunakan emosi. Bercanda dengan teman, bermain dengan anak, atau romantis-romantisan dengan pacar atau istri :)

Itulah kenapa pada kebanyakan advance trader lebih mementingkan psikologi daripada trading system. Karena mengendalikan emosi jauh lebih sulit daripada menemukan trading system. Yang dilawan saat melakukan trading adalah sifat-sifat buruk yang ada didalam diri kita.

Contohnya yang dalam kehidupan sehari-harinya tidak disiplin maka dalam trading pun akan melakukan hal yang sama. Atau yang mudah jatuh cinta, dalam trading pun akan dialaminya. Begitu candle sedikit membumbung, dia pun langsung jatuh cinta dengan candle tersebut dan langsung melakukan entry tanpa pikir panjang. Padahal ternyata candle jebakan dan akibatnya loss :)

Oleh karenanya, yang banyak memiliki sifat buruk dalam dirinya dan kemudian tidak mampu mengendalikannya, akan sulit untuk menjadi trader professional. Nah, biasanya yang seperti ini akan beralih profesi menjadi pembicara seminar trading :)

Daripada trading hasilnya loss terus menerus akibat tidak dapat mengendalikan emosi diri sendiri, maka lebih baik dengan bekal pengetahuan dan pemahaman tentang trading dijadikan bahan seminar. Toh kalau seminarnya dijual mahal, hasilnya akan sama saja dengan melakukan trading :)

Demikian Pak Irfansyah, sekilas mengenai trading psycology. Semoga dapat mencerahkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar