Senin, 05 Juli 2010

Profesionalisme

Keinginan untuk belajar saham timbul dalam diri saya setelah bertemu dan ngobrol dengan turis Taiwan di kereta api tujuan Jakarta Yogyakarta sekitar tahun 1990.

Saat itu, saya masih kuliah dan ke Yogyakarta hanya untuk mengisi liburan dengan berkunjung ke rumah famili. Dengan modal bahasa Inggris seadanya dan terpatah-patah, saya akhirnya bisa ngobrol dengan turis Taiwan yang duduk di depan saya.

Dia bercerita bahwa satu-satunya pekerjaan yang dilakukan olehnya adalah trading saham dan berkat laba yang diperoleh, dia akhirnya bisa jalan-jalan ke Indonesia. Bahkan bila nantinya betah di Indonesia, dia berkeinginan untuk tinggal selama 1 tahun di Bali tanpa harus bekerja apapun karena uang yang diperoleh dari trading saham cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya.

Saya sangat terkagum-kagum, kok bisa ya?

Waktu itu, saya masih buta tentang trading saham, apalagi Forex. Saya hanya tahu bahwa trading saham memang bisa menghasilkan banyak uang, tetapi bagaimana cara trading, ilmu apa yang harus saya kuasai, semuanya masih gelap bagi saya.

Hanya dalam hati saya berjanji kepada diri saya sendiri, kalau suatu hari nanti saya harus belajar saham. Cerita turis itu membuat saya terkagum-kagum, betapa nyamannya kalau mampu seperti itu.

Saat itu internet masih belum ada di Indonesia sehingga pencarian informasi sangatlah sulit. Apalagi buku-buku literatur mengenai saham yang berbahasa Indonesia sangatlah sedikit, bahkan dapat dikatakan tidak ada.

Internet baru masuk di Indonesia sekitar tahun 1994, saya patungan dengan teman saya untuk berlanggan Indonet, provider internet pertama di Indonesia. Sejak saat itu, saya berusaha mencari dan belajar saham sedikit demi sedikit.

Tapi saya masih belum berani melakukan trading karena merasa masih belum paham betul. Pada tahun 2000, saya berusaha untuk lebih menekuni dengan cara bermain demo tebak-tebakan sendiri.

Cara yang saya lakukan waktu itu sangatlah sederhana, saya hanya menebak berdasarkan volume Bid (permintaan) dan volume Ask (penawaran). Kenapa? Karena saya paham betul bahwa pembentukan harga saham hanyalah berdasarkan prinsip Supply dan Demand.

Prinsip Supply Demand sangatlah sederhana, yaitu bila Supply tinggi tapi Demand rendah maka harga akan turun karena terlalu banyak Supply dan sebaliknya.

Sebagai contoh, bila harga 150 tapi volume demand lebih tinggi daripada volume supply maka kemungkinan harga akan naik. Sebaliknya bila volume demand lebih rendah daripada volume supply maka harga akan turun.

Kebetulan saat itu ada 1 situs yang memberikan data harian harga saham, dengan bermodalkan data dari situs tersebut selama kurang lebih 1 tahun saya melakukan tebak-tebakan sendiri dengan tujuan untuk lebih membentuk feeling dan untuk lebih membentuk pemahaman perihal cara kerja bursa.

Setiap hari setelah pulang kantor saya selalu rajin membuka situs itu dan mencatat kira-kira besok saham apa yang harus saya beli atau saya jual.

Setelah 1 tahun dan modal juga telah terkumpul dari hasil menabung, saya buka live account di salah satu broker saham. Saya ingat betul modal awal saat itu sebanyak 20 juta Rupiah.

Semenjak saat itu, saya sangat keranjingan trading saham. Kalah menang berkali-kali saya alami. Pada saat itu market sedang bullish, dampaknya lebih banyak menang yang saya alami daripada kalahnya.

Kesulitan baru saya alami pada tahun 2007, dimana saat itu harga minyak sangat tinggi. Berkali-kali saya trading tetapi hasilnya kebalikan dari yang selama ini saya alami, lebih banyak kalahnya daripada menangnya.

Hal tersebut menyadarkan saya bahwa telah terjadi perubahan di market tetapi saya tidak mengetahui apa yang menyebabkan ilmu trading yang saya gunakan selama ini tidak "sakti" lagi.

Berhari-hari saya renungkan, kenapa bisa kalah? Kenapa prinsip Supply dan Demand tidak sakti lagi?

Makin saya renungkan, makin saya tidak tahu jawabannya. Akhirnya saya berkesimpulan bahwa ada ilmu yang lain agar bisa trading saham dengan sukses, tidak hanya sekedar Supply dan Demand saja.

Tahun 2007 itulah awal saya berkenalan dengan ilmu technical analisys.

Ternyata inilah ilmu yang selama ini saya cari, ilmu inilah yang akan membimbing agar trading saham bisa sukses (meskipun sulitnya setengah mati). Sejak saat itu saya giat belajar technical analisys dan ilmu supply demand saya tinggalkan.

Saya akhirnya memahami bahwa selama ini saya menang karena market sedang bullish, saham apapun yang saya beli pasti akan naik harganya dan bisa memperoleh laba. Sedangkan tahun 2007 adalah bearish, akibatnya saya kalah melulu.

Saat itu saya masih belum memahami money management dan trading saham dengan terlalu PD. Modal yang saya gunakan pun sangat besar ditambah lagi dengan menggunakan margin.

Saya yakin bisa menang, toh pengalaman trading selama ini membuktikan bahwa saya bisa memang.

Itulah kesalahan paling fatal yang saya lakukan!


Saya sadar betul bahwa market sedang bearish, tetapi saya tetap nekad. Hasilnya pun lumayan saat itu, saya mampu menghasilkan 5% s.d. 15% setiap bulan.

Kiamat baru terjadi di September 2008, saya masih ingat betul harinya, hari Senin, kalau tidak salah tanggal 14 September 2008. Saat itu trader di seluruh dunia berharap-harap cemas perihal nasib Lehman Brothers, apakah dibiarkan bangkrut atau ditolong oleh pemerintah Amerika.

Prediksi saya, Lehman Brothers akan ditolong oleh pemerintah Amerika. Hal ini berdasarkan pengalaman AIG yang sebelumnya menjelang bangkrut, tetapi pada saat akhir dibantu oleh pemerintah Amerika. Apalagi Lehman Brothers, yang skalanya jauh lebih besar daripada AIG, tentunya pemerintah Amerika tidak akan membiarkannya bangkrut. Begitulah prediksi saya yang sangat terlalu optimis.

Kenyataan berkata lain, jam 13.45 broker saya menelepon dan mengkhabarkan bahwa Lehman Brothers dibiarkan bangkrut (padahal saat itu saya juga memantau berita melalui Bloomberg dan berita ini belum terbit).

Dengan Lehman Brothers bangkrut artinya seluruh bursa di dunia akan terseret jatuh dan seluruh posisi sahamm yang saya miliki harus di force sell karena terkena margin call. Jujur saja, saat itu otak saya buntu dan tidak bisa bekerja cepat, keputusan terbaik apa yang harus saya ambil, lakukan cut loss sekarang atau tunda siapa tahu kondisi akan membaik.

Akhirnya saya putuskan untuk cut loss, pertimbangannya meskipun saya mengalami rugi besar tetapi paling tidak masih ada sisa uang yang masih dapat saya ambil.

Meskipun dunia terasa jungkir balik tetapi saya lega karena keputusan itu adalah keputusan yang benar. Banyak trader lain yang menunda keluar dari market akibatnya terseret makin dalam ke bawah dan harus merelakan rumah atau ruko-nya diambil alih oleh broker untuk membayar hutang.

Saya hanya bersyukur kepada Tuhan, bahwa kerugian besar tidaklah saya alami sendiri. Hampir semua trader di seluruh dunia mengalami kerugian besar akibat crash 2008. Kerugian bukan karena kebodohan saya tetapi memang sedang sial dan apes.


Broker saya berusaha menenangkan dan menghibur saya dengan berkata "Sudahlah Pak, relakan saja, anggap saja uang Bapak yang hilang saat ini adalah uang yang sedang dititipkan ke orang lain. Toh suatu hari nanti kalau market membaik Bapak bisa kembali ke market dan dapat mengambil uang itu kembali"

Seminggu saya stress, tapi perkataan broker selalu terngiang-ngiang di telinga saya.

Saya mulai berfikir kembali, bagaimana caranya mengambil kembali uang yang hilang itu, padahal bursa saham saat itu tidak menarik karena tidak ada lagi yang berani bermain. Saya harus mencari sesuatu yang lebih sulit dibandingkan saham.

Prinsip saya, pelajari yang tersulit maka yang lain akan menjadi lebih mudah.


Akhirnya setelah searching di internet, saya menemukan Forex. Inilah yang saya cari, jauh lebih sulit dibandingkan saham, kalau saya mampu sukses di Forex tentunya di saham akan jauh lebih sukses.

Selama setahun penuh saya pelajari Forex ini, rata-rata 18 jam sehari saya habiskan waktu saya di depan monitor hanya untuk mengamati pergerakan harga Forex. Dari situ, saya akhirnya mempelajari banyak hal baru yang selama ini tidak saya peroleh di saham.

Salah satu yang diajarkan forex, sangat terlarang mengejar uang dalam trading.

Lucu bukan? Trading adalah mencari uang, tetapi kita dilarang mengejar uang.

Sebenarnya sederhana, kalau tujuan Anda mengejar uang maka nafsu akan meliputi, akhirnya Anda akan serakah dan hanya berfikir satu sisi saja, yaitu mendapatkan laba, tanpa berfikir ruginya.

Oleh karenanya dilarang, coba kalau Anda tidak mengejar uang, Anda akan dapat berfikir lebih jernih. Anda hanya akan berfikir kesempurnaan trading.

Bukankah kalau Anda melakukan trading dengan sempurna nantinya uang akan datang sendiri?

Begitulah cara berfikir dalam trading, jangan kejar uang tapi buatlah supaya uang datang dengan sendirinya sebagai akibat kesempurnaan trading yang Anda lakukan.


Saya sendiri belajar trading hanya untuk diri saya sendiri dan tidak pernah terpikir untuk menjual jasa trading ke orang lain.

Banyak trader yang menjual rekomendasi saham apa yang harus dibeli, atau membuat seminar, atau mengelola dana orang lain untuk trading saham, tetapi saya tidak pernah terpikir untuk melakukan hal-hal seperti itu, saya sudah merasa cukup kalau saya mampu melakukan trading sempurna untuk diri saya sendiri.

Dunia trading adalah tambang emas, kalau Anda mampu melakukan trading dengan sempurna maka uang yang dihasilkan akan lebih dari cukup tanpa harus bersusah payah menjual jasa rekomendasi, atau mengadakan seminar, atau mengelola uang orang lain.

Seperti layaknya paranormal saja, yang menjanjikan orang lain akan kaya raya tetapi dia sendiri hidupnya masih susah. Kalau bisa membuat kaya orang lain, kenapa juga tidak dirinya sendiri yang dibuat kaya terlebih dahulu?

Singkat kata, trader yang baik dan profesional adalah seseorang yang tidak pernah mempromosikan dengan gencar kemampuannya tetapi profesionalisme dan kemampuannya justru dipromosikan oleh orang lain yang menilai.

Jangan pernah percaya dengan yang gencar mempronosikan akan cepat membuat Anda kaya raya, karena biasanya justru dia yang akan bertambah kaya dan Anda yang miskin.

Bentuk profesionalisme di dalam diri Anda, suatu hari nanti Tuhan akan memberi seseorang yang mengakui dan mengagumi kemampuan dan profesionalisme Anda.

Dan bila hal itu terjadi, maka uang akan mengikuti Anda karena Anda tidak lagi trading menggunakan modal uang sendiri tetapi justru diberi modal oleh orang lain yang mengakui kemampuan Anda.

Selalu ingat bahwa dalam dunia trading, kepercayaan adalah segalanya dan berusahalah untuk menjaganya dengan baik agar selamanya bisa tetap dipercaya.

Trader yang baik tidak hanya menguntungkan bagi dirinya sendiri tetapi juga harus menguntungkan buat orang lain. Hubungan yang abadi adalah hubungan yang yang dibangun berdasarkan itikad saling membutuhkan dan saling menguntungkan.

Mengelola dana milik orang lain adalah level tertinggi dari seorang trader dan impian seluruh trader, dimana dapat diartikan bahwa kemampuan dan profesionalisme-nya diakui oleh orang lain hingga percaya sepenuh hati menitipkan dananya untuk dikelola di dunia yang penuh resiko ini.

Dibutuhkan dedikasi dan tanggung jawab lebih besar daripada trading dengan modal sendiri. Melakukan trading adalah pekerjaan dengan tingkat stress yang sangat tinggi, apalagi kalau trading dengan uang milik orang lain.

Ingat, orang yang menitipkan dana tentunya berharap akan mendapatkan laba dengan menitipkan uang ke Anda. Tentunya Anda harus berusaha lebih baik daripada trading dengan uang sendiri agar harapan laba tersebut tidak hilang dan tidak mengecewakan pemilik dana. Itulah kenapa akhirnya tingkat stress-nya lebih tinggi.

Tidaklah mudah mencapai level ini, oleh karenanya sangat jarang trader mampu mencapai level ini.



Tidak pernah sebelumnya terlintas dipikiran saya kalau suatu hari nanti akhirnya ada orang lain yang mau menitipkan dananya untuk saya kelola. Karena bagi saya, trading adalah untuk diri saya sendiri, oleh karenanya tidak pernah terpikir untuk menawar-nawarkan jasa saya ke orang lain dan menjual jasa.

Tetapi seorang sahabat melihat bahwa saya memiliki profesionalisme sehingga dia merasa nyaman dan aman untuk menitipkan dananya kepada saya untuk ditradingkan di saham.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan dan juga sangat berterima kasih kepada sahabat saya yang telah mempercayakan dananya untuk saya kelola di trading saham.

Pencapaian ini adalah suatu anugerah bagi saya, bukan nilai uangnya, tetapi pengakuan dari orang lain dengan cara menitipkan dananya kepada saya, merupakan pengakuan yang tidak langsung bahwa sahabat saya percaya dan mengakui saya sebagai trader yang baik dan profesional.

Kerja keras saya selama ini dengan memelototin monitor minimal 18 jam sehari terbayar sudah.

Bagaimana saya tidak bangga, di sisi lain banyak orang yang mencari uang untuk dirinya sendiri saja masih kesulitan, tetapi saya dipercaya untuk mencarikan uang buat orang lain.

Bagi diri saya hal ini adalah suatu anugrah dan prestasi tersendiri, hal yang dimimpikan oleh banyak trader telah berhasil saya capai



Terima kasih sahabatku....

Hanya satu kalimat yang bisa saya janjikan ke sahabat saya ini, yaitu "Saya akan berusaha yang terbaik menjaga kepercayaan yang telah diberikan"



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar