Sabtu, 17 Juli 2010

Teori Kayu Bakar, Bensin, dan Api

Para trader pada umumnya menggunakan 2 jenis analisa yaitu Fundamental Analysis dan Technical Analysis, sebagai alat untuk menganalisa arah pergerakan harga.

Fundamental Analysis adalah analisa atas segala kegiatan atau kebijakan yang dilakukan oleh emiten (bila di sahama) atau oleh negara (bila di forex) yang dapat berdampak positif atau negatif.

Contoh fundamental, misalnya emiten mengembangkan usahanya dengan mengakusisi perusahaan lain (dampak positif), emiten tidak mampu membayar hutang yang jatuh tempo (dampak negatif), tingkat pengangguran sebuah negara menurun daripada periode sebelumnya (dampak positif), negara tidak mampu membayar hutang (dampak negatif, seperti Yunani baru-baru ini).

Bila dampaknya positif, maka harga saham atau nilai mata uang akan naik atau sebaliknya.

Technical analysis adalah analisa pergerakan harga, dimana bila harga bergerak ke atas maka saatnya untuk membeli karena potensi harga makin naik ke atas sangat besar sehingga bila membeli di harga murah dan menjual di harga tinggi maka akan diperoleh laba (capital gain).

Prinsip sederhana technical analysis adalah dengan menganalisa pergerakan harga maka dapat ditentukan saat untuk membeli atau menjual karena harga tidak selamanya naik terus menerus atau turun terus menerus. Prinsipnya, market akan selalu menstabilkan dirinya sendiri, bila harga sudah terlalu tinggi maka ada saatnya untuk koreksi ke bawah. Demikian juga sebaliknya, bila harga terlalu rendah, maka ada saatnya untuk koreksi ke atas.

Mana yang lebih akurat untuk digunakan sebagai alat analisa, Fundamental analysis atau Technical analysis?

Bila Anda searching di Google, banyak sekali forum yang membahas masalah ini sehingga timbul perdebatan panjang yang tidak berujung.

Masing-masing berusaha mempertahankan bahwa fundamental-lah yang paling akurat, technical-lah yang paling akurat, atau keduanya sama-sama akurat. Akibatnya, trader terbagi 3 jenis, yaitu fundamental trader, technical trader, dan trader yang menggunakan keduanya.

Meskipun begitu, tetap saja masih ada perdebatan baru perihal masalah ini, selalu saja ada yang memposting dan mengajak berdebat mana yang lebih benar dan yang lebih akurat. Bertahun-tahun seperti itu, tidak berujung dan tidak jelas mana yang lebih akurat.

Padahal jawabannya sederhana, yaitu tergantung karakteristik market-nya.

Bila Anda seperti layaknya saya, yang melakukan trading di forex maupun di saham, maka Anda akan lebih mudah paham mana yang lebih akurat.

Pada forex, segalanya serba jelas dan teratur, dimana berita-berita fundamental sudah terjadwal. Maklum, yang diperdagangkan di forex adalah mata uang, dimana penerbit mata uang tersebut adalah negara dan sebuah negara yang baik tentunya memiliki jadwal yang teratur (kecuali dalam situasi genting) kapan saatnya akan me-release berita yang berkaitan dengan kondisi ekonomi negara tersebut.

Seluruh trader forex paham bahwa pada saat terjadi release berita fundamental, lebih baik keluar dahulu dari market sambil menunggu ke arah mana pergerakan harga selanjutnya akibat dampak release berita ekonomi tersebut, baru kemudian melakukan entry.

Pada forex market, technical analysis-lah yang 90% digunakan, sedangkan fundamental analisys tidak terlalu berpengaruh. Dalam seminggu, tidak setiap hari ada high impact fundamental news, oleh karenanya trader lebih cenderung menggunakan technical analysis sebagai alat untuk menganalisa pergerakan harga.

Pada umumnya, harga bergerak cepat melawan arah trend atau searah trend pada saat di release high impact fundamental news. Tetapi begitu dampak news tersebut mereda, harga biasanya akan kembali searah dengan trend. Sangat jarang sekali arah trend berubah akibat adanya fundamental news.

Oleh karenanya, timbul istilah "trend is your friend", jangan coba-coba trading melawan trend, dapat dipastikan account Anda segera amblas.

Trend adalah segalanya di forex market, sehingga untuk dapat menentukan arah trend yang tepat digunakan technical analisys dan bukan fundamental.


Dari pengalaman trading bertahun-tahun, sebenarnya ada 3 hal utama dalam trading, yaitu adanya kayu bakar (fundamental), adanya bensin atau bahan bakar (technical), dan adanya dana yang menggerakkan harga (api).

Sederhananya seperti itu, perumpamaan seperti diatas yang biasa saya lakukan untuk menjelaskan prinsip trading kepada sahabat dan teman-teman saya, sederhana dan amat mudah dipahami.

Fundamental saja tidak akan dapat menggerakkan harga, atau technical saja juga tidak akan bisa, inti utama sebenarnya terletak pada dana. Hanya karena adanya dana yang sangat besarlah yang mampu menggerakkan harga.

Oleh karena itu, selalu harus ada kayu bakar, bensin, dan api, baru seluruhnya bisa terbakar dan menimbulkan api yang sangat besar.


Gampangnya begini, sebuah perusahaan tambang melakukan ekspansi usaha dengan membuka tambang baru di Papua (kayu bakar). Bila hal ini diketahui hanya oleh sedikit orang, maka harga hanya bergerak sedikit saja karena dana yang masuk sedikit. Pergerakan harga yang sedikit tersebut akan terbaca di chart para technical trader (bensin), sehingga sebagian dari technical trader akan membeli saham tersebut.

Akibat pembelian itu, harga naik lagi sedikit, hal ini membuat salah satu investor besar tertarik dan membelinya. Dana yang tertanam di saham tersebut mulai membesar dan harga naik, hal ini terlihat oleh investor asing dan investor-investor lain yang memiliki dana besar. Akhirnya, mereka beramai-ramai membeli saham tersebut (api) dan harga makin membumbung tinggi.

Oleh karenanya tidak mungkin fundamental atau technical berdiri sendiri, harus saling melengkapi dan harus ada dana yang cukup besar untuk menggerakkan harga. Oleh karena itu di saham, dikenal istilah "bandar" atau di forex dikenal istilah "big boys", orang-orang atau institusi seperti mereka-lah yang menggerakkan harga di market.

Percuma saja sebuah perusahaan me-release corporate action yang berdampak positif atau di chart technical trader sudah terlihat sangat bagus sekali, tetapi tidak ada dana yang menggerakkan saham tersebut. Paling-paling saham hanya bergerak disitu-situ saja (sideways), tanpa mau bergerak naik.


Lho... tadi katanya technical atau fundamental tergantung karakteristik market? Kok sekarang malah tidak mungkin fundamental atau technical berdiri sendiri?

Benar, technical atau fundamental tergantung karakteristik market, tetapi sebenarnya pergerakan harga bukanlah tergantung kepada kedua hal tersebut, tetapi jantung utamanya terletak pada ada tidaknya dana untuk menggerakkan harga.

Seperti dijelaskan sebelumnya, fundamental tidaklah terlalu berpengaruh di forex tetapi justru technical yang paling berpengaruh. Oleh karenanya trader forex lebih cenderung menggunakan technical sebagai alat analisa pergerakan harga.

Di forex market, trader juga tidak dipusingkan harus menganalisa kecukupan dana (api) sebagai penggerak harga. Forex adalah market dengan nilai transaksi sangat besar, sekitar 3-5 triliun dollar berputar setiap harinya.

Pada umumnya trader akan melakukan trading pada saat pasar Eropa dan Amerika dibuka, karena pada saat tersebutlah dana yang sangat besar mengalir masuk market sehingga harga pun bergerak kencang. Cukup gunakan technical analysis dan waspadai jadwal high impact fundamental news maka laba dapat diperoleh karena dana mengalir terus menerus masuk market tanpa ada putusnya sehingga harga pun selalu bergerak.


Berbeda dengan bursa saham, dimana dana selalu berpindah tempat, dari satu saham ke saham yang lain, terutama pada saham-saham second dan third liner. Analisa kecukupan dana sangat diperlukan agar tidak terjebak membeli saham tidur, sehingga dana terjebak berbulan-bulan karena kesulitan menjual saham tersebut.

Problem utama pada saham adalah sangat rentan terhadap fundamental.

Oleh karenanya, trading saham tidak dapat hanya semata-mata menggunakan technical analisys, kemudian sama sekali tidak memperdulikan fundamental.

Salah satu contoh mudah adalah apabila tiba-tiba ada bom meledak, tidak peduli apakah saham tersebut sedang trend naik di technical analysis, tetapi akibat bom tersebut pasti harga seluruh saham di bursa akan anjlok, apalagi kalau bom tersebut berdampak fatal sehingga investor beranggapan bahwa kelangsungan usaha serta keamanan tidak lagi terjamin.

Analisa terhadap kondisi ekonomi global, ekonomi regional, ekonomi dan keamanan nasional, kebijakan ekonomi pemerintah, serta corporate action, sangatlah penting di saham.

Oleh karenanya, tidak bisa hanya sekedar technical (bensin) saja di trading saham. Harus selalu waspadai fundamental (kayu bakar) dan ketersediaan dana (api).

Bila 3 hal tersebut terpenuhi, maka harga saham akan dapat naik dengan kencang.

Hanya saja, corporate action di saham beritanya selalu terlambat. Hampir selalu yang terjadi harga saham sudah sangat melambung tinggi, baru setelahnya koran memberitakan bahwa perusahaan tersebut melakukan corporate action yang berdampak positif.

Saya sendiri juga tidak paham kenapa selalu seperti itu, apa sengaja diperlambat beritanya untuk memberi kesempatan kepada para insider trading agar dapat membeli terlebih dahulu pada saat harga masih sangat murah :)

Oleh karenanya, khusus untuk corporate action, saya tidak terlalu mengandalkannya untuk analisa, karena disamping selalu terlambat, juga bisa saja menyesatkan.

Lebih baik fokus kepada fundamental lainnya, technical analysis, dan analisa kecukupan dana. Prinsip saya, sepanjang kayu bakar, bensin, dan api bersatu, maka api pasti akan berkobar tinggi.


Seorang trader yang baik adalah seseorang yang mampu selalu fleksible dan tidak kaku. Kalau lebih cocok diterapkan technical dibanding fundamental, ya gunakanlah itu, jangan ngotot dan kaku, karena akan mahal harganya.

Konsekuensi trading hanyalah 2 hal, rugi atau laba. Selalu fleksible dan ikuti apa yang diinginkan market. Semakin fleksible Anda maka semakin mudah juga laba diperoleh.

Yang sulit adalah menentukan kapan harus fleksible.

Nah... untuk itu diperlukan pengalaman bertahun-tahun :)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar