Minggu, 09 Januari 2011

Trading For Living

Sebuah kalimat yang paling sering ditanyakan oleh mereka yang baru terjun ke dunia trading. Sering kali ditanyakan karena adanya salah pengertian perihal definisi trading dimana trading (saham, forex, options, komoditi, dll) dianggap sebagai salah satu bentuk judi legal.

Pemahaman konvensional yang dipahami masyarakat, penghasilan hanya dapat diperoleh dari:
- bekerja sebagai karyawan atau PNS
- wiraswasta, bisa di sektor jasa, perdagangan, atau industri
- berjudi atau bertaruh

Manakah yang menghasilkan paling besar?

Berjudi, karena kalau menang maka laba yang diperoleh akan fantastis. Bekerja sebagai karyawan atau wiraswasta mengumpulkan sedikit demi sedikit tetapi kalau berjudi sekali menang akan langsung kaya raya (sebaliknya juga dapat membuat bangkrut secara instant).

Cerita dari mulut ke mulut betapa fantastisnya laba dari trading atau sebaliknya betapa cepatnya trading membuat jatuh miskin, akhirnya membuat masyarakat menyamakan trading dengan berjudi.

Hal ini diperparah lagi dengan banyak yang terjun ke dalam dunia trading tetapi tanpa bekal pengetahuan dan pemahaman memadai. Mereka melakukan trading hanya berdasarkan "feeling" atau tebakan, seperti layaknya judi dilakukan.

Sehingga pada akhirnya, kalimat "trading for living" menjadi sangat sulit untuk dijawab karena salah kaprahnya pemahaman. Mungkinkah kita melakukan trading for living?

Trading atau berdagang atau jual beli, apapun yang diperdagangkan, menggunakan prinsip membeli di harga terendah dan kemudian menjual kembali di harga tertinggi. Perolehan dari selisih harga terendah dan tertinggi adalah laba yang dinikmati oleh yang melakukannya.

Masyarakat terbiasa melakukan trading barang atau jasa yang bentuknya nyata. Berdagang komputer, mobil, motor, jasa keamanan, jasa kebersihan, dan sebagainya memiliki bentuk nyata, selalu terdapat bentuk barangnya atau terdapat upaya memenuhi melakukan jasa tersebut, terdapat penjualnya, dan juga terdapat pembelinya.

Agak sulit bagi masyarakat untuk menerima hal yang tidak nyata, hanya sekedar angka-angka, tetapi bentuk barang, penjual, dan pembeli tidak terlihat secara kasat mata. Maklum saja, karena trading sebenarnya adalah dunia masa depan, dimana teknologi terkini benar-benar digunakan sebagai sarana untuk melakukannya sehingga nyaris seluruhnya serba virtual.

Kenapa Anda yakin kalau masih memiliki uang di bank padahal yang dipegang hanyalah buku tabungan yang berisi angka dan bukan uang sebenarnya?

Kenapa Anda yakin transfer dana sudah diterima padahal hanyalah sekedar angka yang dilakukan via internet banking dan uang sebenarnya tidak diberikan langsung?

Jawabannya, Anda yakin karena memahami bahwa bank akan menyimpan uang dengan aman atau melakukan perintah yang diberikan via internet banking dengan benar.

Seperti itulah gambaran sederhananya, kalimat "trading for living" sulit dijawab karena belum adanya pemahaman yang benar. Trading baik di bursa saham, forex, options, komoditi, dll menjadi sulit dipahami karena seluruhnya tidak ada yang nyata.

Bentuk barangnya (bila trading saham, maka sahamnya tidak kita pegang atau bila trading forex, bentuk mata uangnya tidak kita pegang) tidak terlihat. Menjadi lebih sulit lagi karena bisa saja saat ini Anda bertindak sebagai pembeli tetapi beberapa detik kemudian berubah menjadi penjual.

Padahal trading sebenarnya sama saja dengan berdagang barang atau jasa yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Bila di bursa saham, maka yang diperjualbelikan adalah saham. Bila di bursa forex, yang diperjualbelikan adalah mata uang. Prinsipnya pun sama saja dengan perdagangan pada umumnya, yaitu membeli di harga termurah dan kemudian menjual di harga termahal agar dapat diperoleh keuntungan sebesar-besarnya dari selisih harga tersebut.

Kalimat "trading for living" juga menjadi sulit dijawab dikarenakan sebagian besar yang melakukan trading hanyalah sebagai pekerjaan sampingan atau sekedar fun. Sekedar ikut-ikutan teman, hanya iseng-iseng mencoba trading, sebagai alternatif penghasilan sampingan, dan masih sangat jarang yang benar-benar menekuninya supaya suatu saat nanti dapat dijadikan pekerjaan tetap dan karier.

Lho... memangnya ada karier dalam trading?

Bayangkan bila Anda memulai wiraswasta dengan membuka toko kelontong kecil di ujung gang. Bila ditekuni dan serius dilakukan, suatu saat toko kelontong kecil berubah menjadi toko yang agak besar. Lama kelamaan semakin membesar sehingga lokasi toko bukan lagi di ujung gang, tetapi sudah di tepi jalan protokol. Bila berkembang terus menerus, suatu saat nanti toko Anda akhirnya memiliki banyak cabang di berbagai kota.

Seperti itulah gambaran karier dalam trading. Tetapi bukan dalam bentuk toko yang berkembang, dalam trading yang berkembang adalah perolehan profit. Pada saat awal karier trading, mungkin profit yang konsisten diperoleh hanya 10%. Tetapi bila keahlian makin meningkat, bisa saja profit yang diperoleh nantinya ratusan bahkan ribuan persen dalam sebulan.

Pemahaman salah perihal trading juga terjadi dalam jumlah modal yang diperlukan. Sering kali kita dengar kalau trading memerlukan modal besar. Padahal sebenarnya tidak, saat ini minimal modal untuk melakukan trading saham hanya 5 juta Rupiah sedangkan minimal modal untuk trading Forex hanya USD 250, bahkan ada beberapa broker forex yang mensyaratkan minimal hanya USD 50.

Trading adalah bisnis yang sangat mudah untuk dijalankan. Anda tidak perlu karyawan, tidak perlu kantor, dan tidak perlu modal besar. Cukup berada di rumah gunakan komputer dan internet untuk melakukannya.

Trading juga bisnis yang sangat jujur. Anda tidak perlu merayu dan meyakinkan orang lain untuk membeli, tidak perlu membohongi orang, tidak perlu melakukan mark-up harga dan korupsi, dan berbagai hal buruk lainnya. Hanya kemampuan dan keahlian yang menentukan sukses atau tidaknya.

Coba tanya kepada teman Anda, kenapa tidak berwiraswasta saja sekarang?

Jawabannya selalu, waduh... tidak ada modal.

Hal inilah yang dipahami oleh sebagian besar orang, bahwa wiraswasta selalu memerlukan modal besar. Sehingga kalau tidak ada modal maka tidak akan dilakukan.

Padahal hal tersebut salah besar. Dalam bisnis apapun, bukanlah modal yang utama, tetapi kemampuan dan keahlian adalah modal utamanya. Kemampuan dan keahlian hanya dapat terbentuk dari proses ketekunan dan kemauan belajar terus menerus meningkatkan diri untuk menjadi lebih baik.

Bila Anda berpikir harus ada modal besar terlebih dahulu baru dapat melakukan wiraswasta, maka pemikiran Anda sama saja dengan Anda harus kaya terlebih dahulu baru dapat melakukan wiraswasta. Coba pikir, darimana modal besar dapat diperoleh kalau Anda tidak kaya terlebih dahulu? Memangnya bank dapat percaya begitu saja memberikan kredit kalau Anda tidak memiliki apa-apa sebagai jaminan kredit tersebut?

Bank atau teman Anda mau memberikan modal besar untuk melakukan usaha dikarenakan melihat adanya potensi di dalam diri Anda. Meskipun Anda tidak memiliki apa-apa sebagai jaminan, tetapi kalau memiliki kemampuan dan keahlian sehingga menimbulkan potensi diri, maka bank atau teman dapat saja memberikan modal karena yakin potensi di dalam diri Anda akan memberikan imbal balik yang menguntungkan mereka di masa mendatang.

Trading atau bisnis apapun mensyaratkan harus dimiliki kemampuan dan keahlian terlebih dahulu agar survive dalam persaingan. Yang jadi masalah, tidak banyak yang menyadari hal ini sehingga yang dilakukan adalah terjun dahulu baru kemudian belajar.

Perhatikan saja sebuah warung bakso yang baru dibuka. Prinsip utama bisnis, warung tersebut harus lebih enak dan lebih murah daripada warung bakso disekitarnya kalau ingin survive dan memenangkan persaingan. Yang jadi problem, kebanyakan membuka warung bakso hanya karena sekedar coba-coba dimana nantinya sambil berdagang bakso baru belajar perihal bagaimana bisnis bakso itu sebenarnya. Akibatnya, tidak sampai 3 bulan warung tersebut ditutup karena rugi terus menerus tidak bisa mengalahkan warung bakso lain disekitarnya.

Kenapa dicontohkan warung bakso dan toko kelontong, padahal yang dibahas khan trading?

Agar lebih mudah dipahami, karena trading sama saja dengan kisah toko kelontong atau warung bakso di atas. Keahlian dan kemampuan yang utama bila ingin sukses menjadikan trading sebagai karier sehingga memperoleh penghasilan yang dapat mencukupi kehidupan.

Bagaimana keahlian dan kemampuan dapat dibentuk?

Seperti telah dijelaskan diatas, pembentukannya hanya dapat dilakukan dengan 1 cara, proses terus menerus tekun belajar dan berlatih. Bila Anda banyak uang, maka dapat mengikuti seminar atau workshop yang banyak diiklankan di surat kabar. Atau belajar otodidak sendiri dengan menjelajahi website, forum, atau mailing list membahas trading yang banyak bertebaran di internet.

Ilmu yang harus dikuasai agar sukses dalam trading adalah technical analysis. Banyak sekali di internet website, forum, atau mailing list yang membahas dan mengajarkan hal ini dengan gratis. Semua ilmu trading dapat diperoleh dari internet secara murah meriah tanpa harus membeli buku apapun. Sepanjang rajin menjelajah dan membacanya, kemudian mengumpulkan kepingan-kepingan informasi tersebut sehingga akhirnya bisa dipahami, dijamin suatu saat nanti Anda akan menjadi trader yang sukses.

Tetapi kebanyakan cenderung memilih workshop atau seminar yang harus bayar mahal. Kenapa? Karena harga mahal memberikan pengaruh psikologis. Tidak mungkin bukan seminar atau workshop yang berbayar mahal, apalagi pesertanya banyak, memberikan ilmu yang ala kadarnya. Pemikiran Anda, pasti ilmu yang diberikan oleh workshop atau seminar tersebut adalah ilmu "sakti" sehingga sepulang dari sana Anda sudah memiliki kesaktian untuk menjadi cepat kaya raya dalam waktu singkat. Toh bayarnya mahal dan pesertanya banyak, jadi kesaktiannya sudah pasti :)

Padahal pesertanya banyak karena rata-rata peserta tersebut berpikiran sama seperti yang Anda pikirkan. Mereka merasa cukup bayar sekali, tidak apa-apa sekalipun mahal, tetapi sepulang dari sana akan segera cepat kaya raya karena telah memperoleh ilmu "sakti".

Nah, setelah mereka terjun ke market dan melakukan trading sebenarnya, baru disadari bahwa ilmu tersebut belumlah cukup untuk mengalahkan market dan kemudian memperoleh profit yang dapat menjadikan mereka kaya raya.

Kebanyakan yang diajarkan di workshop atau seminar sebenarnya hanyalah dasar-dasar trading (yang dapat dipelajari gratis di internet). Workshop atau seminar tersebut menjadi luar biasa karena pesertanya kebanyakan awam dimana karena dikemas secara apik sehingga sesuatu yang sebenarnya hanyalah sekedar dasar-dasar trading menjadi luar biasa karena pesertanya masih awam dan belum paham.

Ditambah lagi adanya testimonial fantastis, dimana seolah-olah untuk memperoleh profit dari trading sangatlah mudah. Intinya, yang dijual oleh workshop atau seminar adalah menjual impian dimana seolah-olah kaya raya dari trading dapat diraih dengan mudah. Karena itulah akhirnya orang berbondong-bondong mengikutinya meskipun harus membayar mahal.

Perlu diingat, tidak ada yang mudah di dunia ini, semuanya harus diperoleh dengan kerja keras dan ketekunan. Kalau mudah, tentunya sudah banyak orang menjadi kaya raya karena trading, termasuk Anda sendiri :)

Tahukah Anda kenapa seminar atau workshop selalu diadakan pada hari libur (Sabtu Minggu)?

Karena lebih mudah membaca chart yang tidak bergerak ("mati") daripada yang bergerak ("hidup"). Perlu diketahui, Sabtu dan Minggu seluruh market libur sehingga seluruh chart pun "mati". Membaca chart "mati" adalah hal yang sangat mudah dilakukan. Tetapi bagi yang awam, kemampuan bisa membaca chart "mati" akan kelihatan sangat hebat, apalagi ditambah dengan prediksi-prediksi, wah...hebat sekali bukan

Padahal dalam trading, tantangan terbesar adalah bukan hanya pada kemampuan membaca chart, tetapi juga kemampuan bereaksi cepat dalam kondisi chart "hidup". Oleh karenanya kebanyakan seminar atau workshop memilih hari libur. Karena apabila memilih hari kerja pada saat market sedang berjalan maka akan lebih sulit dan akan langsung ketahuan bahwa kemampuan sebenarnya tidaklah sehebat yang dipromosikan karena langsung dapat diuji.

Bila Anda tertarik untuk mengikuti workshop atau seminar, hanya ikuti yang dilakukan pada hari kerja dan yang melakukan trading langsung di market. Karena apabila ada workshop atau seminar seperti itu, maka pembicara di workshop atau seminar tersebut adalah benar-benar trader dan benar-benar professional yang tetap percaya diri bahwa dalam kondisi market sedang berjalan pun kemampuannya akan tetap prima.

Jangan anggap kalau pembicara di semua workshop atau seminar adalah trader, belum tentu. Bisa saja pembicara tersebut hanyalah orang yang hanya paham secara teoritis saja dan tidak pernah melakukan trading. Buat apa repot melakukan trading yang penuh resiko, kalau hasil dari workshop dan seminar saja sudah melimpah ruah :)

Ilmu trading tidak bisa diperoleh hanya beberapa bulan, paling cepat 2-3 tahun baru akhirnya konsisten profit dapat diperoleh. Bukankah untuk menjadi dokter ahli bedah harus sekolah selama 7 tahun? Maukah Anda dibedah oleh orang yang hanya belajar bedah dari hasil seminar 2 hari saja? Tentunya tidak... :)

Trading adalah bisnis, sehingga apabila Anda memperlakukan trading seperti layaknya Anda memperlakukan toko kelontong atau warung bakso seperti kisah diatas, maka suatu saat kemampuan trading akan berkembang dan konsisten profit akhirnya diperoleh. Trading for living akan terjadi karena penghasilan untuk memenuhi kehidupan sepenuhnya diperoleh dari hasil trading.

Oleh karenanya, bila Anda baru terjun ke dalam dunia trading dan kemudian ingin menjadikan trading nantinya sebagai karier baru (trading for living), disarankan jangan terburu-buru keluar dari pekerjaan yang Anda miliki saat ini. Ilmu trading tidaklah mudah, perlu waktu untuk menguasainya.

Sambil bekerja, gunakan waktu luang yang dimiliki untuk membentuk kemampuan dan keahlian trading. Bila terus menerus dilakukan dan ditekuni sehingga kemudian mampu memperoleh konsisten profit, barulah berpikir untuk keluar dari pekerjaan.

Kebanyakan melakukan terbalik, iseng-iseng mencoba trading dan baru mendapatkan profit 1 atau 2 kali saja, langsung keluar dari pekerjaan. Jangan lakukan hal ini kalau Anda tidak ingin hidup makin sulit dan menderita.

Jalani saja pekerjaan yang ada, karena trading sebenarnya adalah wiraswasta dimana selalu ada resiko kerugian. Paling tidak bila mengalami kerugian akibat trading, Anda masih memiliki gantungan lainnya untuk mencukupi kebutuhan, yaitu penghasilan dari pekerjaan saat ini.

Tahukah Anda perbedaan antara yang miskin, cukup, dan kaya?

Yang miskin adalah yang telah bekerja mati-matian tetapi penghasilan yang diperolehnya tidak pernah cukup memenuhi kebutuhannya. Yang cukup adalah yang telah bekerja dan penghasilan yang diperolehnya cukup memenuhi kebutuhannya bahkan terdapat sisa yang dapat ditabung. Sedangkan yang kaya, adalah seseorang yang tidak perlu lagi bekerja karena meskipun tidur pun uang bagi dirinya telah mengalir dengan sendirinya.

Miskin, cukup, dan kaya bukanlah ditentukan dari nilai kekayaan yang dimiliki tetapi dari cara penghasilan tersebut diperoleh dan cukup tidaknya memenuhi kebutuhan. Oleh karenanya, meskipun kekayaan Anda nilainya milyaran tetapi kalau Anda masih melakukan bekerja mencari penghasilan, maka Anda belum disebut sebagai yang kaya, tetapi hanyalah yang cukup.

Anda baru disebut orang kaya apabila yang dilakukan tidak lagi bekerja, yang dilakukan hanya menikmati hidup dan bermalas-malasan tetapi uang telah secara otomatis mengalir dengan sendirinya. Anda pun dapat melakukan segala hal yang diimpikan karena penghasilan yang diperoleh jauh melebihi kebutuhan.

Oleh karenanya, jangan bersombong diri dahulu meskipun nilai kekayaan milyaran tetapi saat ini masih bekerja. Baru tepuklah dada dengan bangga apabila uang telah mengalir dengan sendirinya tanpa harus bekerja.

Bila sudah tidak perlu lagi bekerja karena uang mengalir dengan sendirinya, itulah yang disebut sebagai Financial Fredoom. Waktu yang Anda miliki tidak lagi terbuang untuk bekerja mencari penghasilan yang kemudian setelahnya pusing mencukup-cukupkan penghasilan tersebut dengan kebutuhan sehari-hari.

We gives our lives to our jobs...

Coba hitung, tanpa memperhitungkan waktu untuk tidur, dalam seminggu berapa jam waktu Anda bersama keluarga dan berapa jam waktu bekerja di kantor? Tentunya lebih banyak waktu untuk bekerja daripada bersama keluarga.

Tanpa disadari, sebenarnya hidup yang kita jalani lebih banyak dihabiskan untuk bekerja. Itulah kenapa banyak yang menjadi kelihatan lebih tua sebelum waktunya dan cepat sakit sebelum waktunya.

Bayangkan saja, selama bekerja kita harus duduk terus menerus, jarang berolah raga, memakan makanan yang tidak sehat, begadang karena harus lembur, stress karena dimarahi oleh atasan, stress karena harus memarahi anak buah yang pekerjaannya tidak beres, dan berbagai hal lain yang membuat beban pikiran dan menjadikan hidup tidak sehat.

Kalau penghasilan dari pekerjaan tersebut lebih dari cukup, maka Anda beruntung. Karena bila mengalami sakit, paling tidak Anda masih mampu membayar biaya rumah sakit. Tetapi kalau penghasilan pas-pasan, bukankah percuma saja bekerja mati-matian seperti itu. Lebih baik gunakan waktu dan pikiran untuk mulai membentuk karier atau pekerjaan lain yang lebih baik.

Coba kalau dibalik, andaikan saja Anda tidak perlu bekerja lagi. Waktu yang tersedia dapat digunakan untuk lebih menikmati hidup, kebersamaan dengan keluarga akan lebih sering, berolahraga dapat secara rutin dilakukan, melakukan berbagai hal yang disukai dan diimpikan yang sebelumnya tidak bisa dilakukan karena adanya keterbatasan dana dan waktu.

Tentunya kalau hal tersebut terjadi, hidup akan lebih indah bukan. Wajah akan selalu segar berseri-seri karena jarang stress dan selalu tersenyum menikmati indahnya hidup. Tubuh lebih bugar karena rutin berolahraga dan hanya memakan makanan yang sehat saja. Hidup akan berjalan lebih nyaman dan lebih santai karena waktu tidak lagi mengejar-ngejar Anda sebagaimana layaknya dahulu pada saat masih harus bekerja.

Itulah impian semua orang, saya pun bermimpi agar suatu saat nanti dapat seperti itu.

Impian tersebut (financial freedom) adalah the next level dari sekedar trading for living.

Oleh karenanya sejak beberapa tahun lalu, benar-benar tekun dan serius mempelajari ilmu trading ini sebagai upaya meraih impian tersebut. Fokus utama adalah forex karena hanya pada forex dimungkinkan adanya automatic trading menggunakan robot.

Seandainya robot yang baik telah ditemukan, saya tidak lagi perlu bekerja karena robotlah yang bekerja untuk mencarikan penghasilan dari trading forex. Apalagi potensi forex yang luar biasa, profit dapat mencapai ratusan bahkan ribuan persen dalam waktu singkat. Tentunya kalau robot yang baik berhasil diciptakan maka penghasilan yang diperoleh tidak lagi ada batasnya.

Bila hal tersebut terjadi, bukan saja impian berhasil diraih tetapi robot dapat digunakan untuk menolong sahabat dan teman yang saat ini mengalami kesulitan hidup. Kesulitan karena terbebani hutang, kesulitan karena pekerjaan saat ini tidak memuaskan, kesulitan karena pekerjaan saat ini tidak disukai, dan berbagai macam kesulitan lain.

Bayangkan, menolong orang lain tetapi yang menolong bukan tangan sendiri, tetapi robot yang melakukannya. Hebat bukan...

Menolong dengan menggunakan robot tidaklah terbayang sebelumnya. Jujur saja, sejak awal belajar trading dan mulai membuat robot, tidak terbesit di pikiran bahwa nantinya robot akan digunakan untuk kepentingan orang lain. Belajar trading dan membuat robot dilakukan hanya karena semata-mata untuk tujuan meraih impian financial freedom bagi diri saya sendiri.

Tetapi dengan berjalannya waktu dimana akhirnya teman dan sahabat mulai memahami apa yang saya lakukan, mereka akhirnya menggantungkan masa depannya pada robot.

Saya sendiri sampai heran, robot ini belum jadi lho dan belum tentu impian tersebut dapat diraih, sehingga mohon jangan terlalu berharap banyak terlebih dahulu.

Tahukah jawaban mereka?

Tidak apa-apa seandainya belum jadi, tidak apa-apa seandainya saat ini masih belum baik kinerja robot tersebut. Tetapi potensi robot tersebut telah menimbulkan harapan akan hidup yang lebih nyaman dan lebih baik di masa mendatang.

Saya tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan yang semula hanya untuk diri sendiri, akhirnya mampu menimbulkan harapan akan hidup yang lebih baik diantara sahabat dan teman. Beban memang akhirnya menjadi lebih berat karena banyak orang menggantungkan harapan pada upaya ini.

Banggakah Anda apabila mampu memenuhi harapan orang tua? Tentu saja bangga, karena Anda telah membuktikan telah bekerja keras sehingga harapan tersebut dapat terwujud.

Semua orang tua di dunia ini selalu menaruh harapan pada anak-anaknya, tetapi belum tentu ada orang lain yang menaruh harapannya pada diri Anda bukan? Nah, dari logika tersebut, bangga atau tidak kalau sampai ada orang lain yang menaruh harapan di pundak Anda.

Oleh karenanya, di tulisan ini saya sangat berterima kasih kepada teman dan sahabat yang telah sepenuhnya percaya menaruh harapannya di pundak saya. Hal tersebut merupakan suatu kehormatan bagi diri saya.

Seandainya harapan tersebut dapat terpenuhi, maka freedom atau kebebasan yang sebenarnya akan sepenuhnya tercipta. Tidak lagi terbelenggu dengan pekerjaan sehari-hari, tidak lagi terbelenggu dengan waktu, apapun yang diinginkan dan diimpikan dapat dilakukan karena tidak ada lagi belenggu waktu dan keterbatasan dana.

Mungkinkah itu terjadi?

Mungkin saja, karena tidak ada yang tidak mungkin sepanjang ada kemauan dan ketekunan untuk meraihnya.

Tahukah Anda bahwa kemampuan dalam diri itu selalu tumbuh?

Kadang kala sesuatu rasanya seperti tidak mungkin karena pada saat tersebut kemampuan masih belum memiliki ketinggian yang sama dengan apa yang ingin diraih. Tetapi kalau rajin menyirami dan memupuk kemampuan tersebut dengan kemauan dan ketekunan, maka sesuatu yang dulunya tidak mungkin akan menjadi mudah terwujud karena kemampuan telah tumbuh sama tinggi dengan apa yang ingin diraih.

Oleh karenanya, mohon doa restunya dan bila Tuhan merestui, semoga impian diatas dapat terwujud pada tahun 2011 ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar