Sabtu, 12 Februari 2011

Entry & Exit Strategy (#2)

Pak Ary,

Saya kirim e-mail ini melalui Gmail melalui Microsoft Outlook sebab saya mencantumkan beberapa gambar sebagai ilustrasi. Sepertinya saya masih agak sulit memahami paradigma tentang Exit Strategy. Mohon maaf untuk Pak Ary jika sudah menulis panjang lebar namun saya masih kurang mengerti kenapa Exit jauh lebih penting. Sekali lagi saya benar-benar minta maaf.

Saya ingin menggambarkan sebuah keadaan dimana dalam kehidupan terkadang kita menemui banyak pilihan jalan mana yang harus kita tempuh. Ibaratnya dalam Forex kita harus memilih untuk ikut sang Banteng, atau sang Beruang.



Salah memilih jalan tentu akibatnya bermacam-macam, mulai dari waktu tempuh yang tidak sebentar hingga berujung fatal. Ini sama seperti memilih sang Banteng yang ternyata (tau-taunya) sedang sakit pada akhirnya diterkam oleh sang Beruang, atau sebaliknya saat kita memilih sang Beruang yang ternyata saat perjalanannya sedang lengah lalu diseruduk oleh sang Banteng. Intinya ya salah pilih arah.

Maka oleh sebab itu, sebelum memilih sebuah jalan atau kapan masuk market, banyak hal yang harus dipertimbangkan terlebih dulu. Ini kenapa saya masih meyakini bahwa Entry juga tidak kalah pentingnya dengan Exit dalam sebuah trading strategi. Kembali ke masalah penentuan sebuah jalan yang harus ditempuh (atau order mana yang harus kita pilih) bahwa ada banyak hal yang bisa dijadikan sebagai alat pertimbangan walaupun tidak bisa akurat 100%. Terkadang alat pertimbangan seperti indikator-indikator malah memberikan keputusan yang tidak sepenuhnya baik (false signal).



Setelah memilih sebuah jalan tentunya kita harus tahu kapan kita keluar. Disinilah diperlukan Exit Strategy yang baik juga setelah menjalani proses mendapatkan sesuatu yang kita inginkan. Salah satu hal penting seperti yang telah Pak Ary sampaikan sebelumnya juga, bagaimana jika ternyata jalan yang dipilih justru membuat lebih banyak masalah, apakah berani mengambil sebuah langkah Stop Loss?

Setelah hasil mulai nampak, kita harus bisa 'memetik'nya sebelum terjadi sesuatu hal lainnya. Hasil profit (floating) yang sudah kita dapat bisa lenyap seketika itu juga karena terlalu lama menunggu, misalnya.

Walaupun masih dalam kebingungan mencari sebuah strategi Entry dan Exit yang tepat, nampaknya baru kali ini saya bisa menikmati pergerakan market walaupun hasilnya mata saya menjadi seperti mata panda. Trims untuk nasehat-nasehat sebelumnya tentang bagaimana saya seharusnya kembali ke manual terlebih dulu untuk mencari strategi yang baik.

Jika Pak Ary berkenan, saya ingin mengusulkan satu buah broker lagi untuk di-compare dengan broker lainnya yaitu FX Clearing. Nampaknya ini salah satu broker yang termasuk menggunakan Spread kecil (untuk EUR/USD hanya 1 poin), bebas Swap, dan memiliki account Micro-Cent dan lainnya.

Mengenai masalah Account Live Andromeda yang sedang drop, saya ikut bersimpati. Semoga di lain kesempatan mampu kembali bangkit.

Terima kasih untuk perhatian dan bantuannya.

Regards,
Aras


Nb: jika Pak Ary sudah pernah mengetahui tentang konsep Candlestick dari Steve Nison seperti pada signature gambar ilustrasi diatas tersebut, mohon tanggapannya apakah bisa konsep tersebut mampu diimplementasikan pada sebuah EA. Jika berkenan, saya bersedia membantu dalam prosesnya nanti.





Pak Aras,

Memang benar, Entry juga tidak kalah pentingnya dengan Exit. Tetapi kalau belum paham bagaimana melakukan Entry yang tepat, tentunya Exit tidak perlu dipusingkan karena Exit-nya akan otomatis terjadi dengan Stoploss :)

Saya maklum apabila Pak Aras merasa agak janggal dan masih agak sulit memahami paradigma tentang kenapa Exit lebih penting daripada Entry. Hal ini disebabkan karena apa yang dijelaskan dan banyak dibaca di forum-forum forex selalu menonjolkan pentingnya Entry. Sangat jarang (bahkan mungkin tidak ada) yang menjelaskan pentingnya melakukan Exit yang optimal.

Paradigma yang umumnya dipahami, Exit yang baik adalah Exit dengan profit. Tidak peduli apakah profit hanya 1 pip atau 100 pip. Perhatikan saja di forum-forum forex, banyak sekali dengan bangganya menulis bahwa baru saja melakukan exit dengan profit, meskipun hanya beberapa pip saja.

Mereka tidak pernah mempertanyakan apakah Exit tersebut sudah optimal. Tidak ada yang peduli, pokoknya sudah Exit dengan profit maka sudah cukup senang. Tahukah Pak Aras kenapa? Karena mereka belum paham entry yang tepat, sehingga pada saat mampu exit dengan profit, wah... tentunya sangat senang sekali.

Padahal kunci sukses forex bukanlah hanya sekedar exit dengan profit cuma beberapa pip saja, tetapi mampu melakukan exit yang optimal.

Bukan berarti kemudian memperoleh profit kecil adalah salah. Tidak apa-apa exit dengan profit hanya beberapa pip saja, tetapi paham betul bahwa exit tersebut terpaksa dilakukan karena sudah optimal dan trend akan segera berbalik arah setelahnya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa exit yang baik bukanlah exit dengan profit, yang baik adalah exit dengan optimal profit. Karena optimal profit inilah yang menentukan kesuksesan dalam trading.

Mohon maaf apabila kali ini dalam menjawab email Pak Aras agak lebih lamban daripada biasanya dikarenakan saya mempersiapkan contoh exit yang baik agar lebih mudah dipahami. Berikut adalah uji coba strategi exit yang baik dengan trading di demo:




Fantastis bukan kalau dapat menemukan exit yang optimal, hasil diatas diperoleh dari trading hanya sehari (sayangnya di demo, coba kalau di live... :) ).

Exit digunakan Auto Exit EA dimana pada nomor 1 EA tidak berjalan karena kebetulan tidak di depan monitor dan keburu terkena take profit. Sedangkan nomor 2 hanyalah iseng melakukan entry di retrace kecil. Nomor 3, exit terjadi karena Auto Exit EA melakukan trailing akibat dideteksi trend sudah maksimal. Nomor 4 seharusnya exit sekitar 40 pip, tetapi karena salah mengira arah trend akhirnya dilakukan manual exit yang sedikit terlambat dan profit menjadi lebih kecil daripada seharusnya. Pada nomor 4 kesalahan terjadi karena mengira arah trend sudah berbalik, tetapi ternyata belum dan yang terjadi hanyalah sekedar retrace 50 pip. Akibatnya kesadaran untuk exit menjadi sedikit terlambat.

Dari contoh diatas, exit yang optimal adalah pada nomor 2 dan nomor 3 meskipun profitnya kecil. Nomor 2 memang harus segera exit dikarenakan hanyalah retrace kecil dimana bisa saja arah tiba-tiba berbalik karena jelas-jelas entry melawan arah trend. Exit nomor 3 dikarenakan trend sudah maksimal dan harus segera exit.

Exit nomor 1 tidak optimal dikarenakan keburu terkena take profit padahal trend masih melaju kencang. Seharusnya exit nomor 1 ini dilakukan di lokasi nomor 3 yaitu saat terdeteksi trend sudah maksimal. Exit nomor 4 sudah jelas tidak optimal karena salah memprediksi.

Tetapi coba kalau hasil diatas dibaca oleh yang awam, tentunya exit yang optimal adalah nomor 1 dan nomor 4 karena profitnya lebih tinggi daripada nomor 2 dan 3. Seperti itulah penjelasannya Pak Aras, semoga kali ini dapat lebih mudah dipahami.

Belajarlah untuk memahami kenapa harus exit. Bila setelahnya arah berbalik, maka exit tersebut sudah optimal. Tetapi apabila arah masih berlanjut terus, maka exit menjadi tidak optimal. Biasanya exit seperti ini dilakukan karena grogi dan takut kalau-kalau arah berbalik. Sehingga dapat diartikan bahwa belum paham dimanakah exit optimal yang baik dilakukan.

Problem utama trading terletak pada inside candle. Kita semua memahami bahwa entry harus dilakukan pada next candle, tunggu sampai current candle terbentuk sempurna terlebih dahulu sehingga arah sudah lebih dapat dipastikan. Tetapi untuk exit, tidak perlu menunggu sampai candle terbentuk sempurna, kalau dirasa optimal, ya segera lakukan exit.

Padahal bisa saja current candle yang semula hijau, tiba-tiba menjadi merah, dan setelahnya menjadi kembali hijau kemudian melaju kencang ke atas. Nah, jadi bingung khan exit dimana... :)

Prinsipnya, apabila telah berhasil menemukan entry yang baik, maka pertanyaan berikutnya adalah dimanakah exit yang optimal. Optimal exit inilah yang akan sangat menentukan Risk Reward Ratio (RR) dan itulah kunci sukses trading.

Oleh karenanya, selalu diajarkan gunakan maksimal 2% dari modal. Hal ini adalah prinsip money management dan lebih ditujukan kepada yang masih awam sebagai salah satu cara untuk meminimalkan resiko kehilangan modal. Itupun masih banyak yang belum paham akan maksudnya, kebanyakan mengartikan 2% tersebut sebagai jumlah lot untuk ditradingkan. Padahal bukan itu yang dimaksud, 2% tersebut ditujukan pada nilai loss.

Sebagai contoh, modal awal sebesar USD 10.000. Nilai 2% dari modal awal sama dengan USD 200. Kebanyakan mengartikan bahwa lot yang dibeli tidak boleh lebih dari USD 200 karena akan melanggar prinsip 2%. Bukan seperti itu yang dimaksud dengan prinsip 2%.

Yang benar, USD 200 adalah jumlah maksimal yang tersedia untuk dihilangkan akibat loss. Dengan demikian, apabila membeli 1 lot maka gunakan stoploss 20 pip (sama dengan USD 200) atau membeli 0,5 lot gunakan stoploss 40 pip (sama dengan USD 200). Sehingga bila terjadi loss maka yang hilang hanyalah USD 200 atau 2% dari modal.

Nah, kalau sudah bersedia kehilangan 2%, tentunya hasilnya minimal harus 2% juga (RR). Agar hasil dapat maksimal dan RR menjadi baik, maka entry dilakukan pada saat diperkirakan exitnya juga akan menghasilkan minimal 2%.

Plan a trade and trade a plan.

Entry dan exit harus direncanakan terlebih dahulu, hal inilah yang jarang dipahami. Tidak akan pernah sukses trading apabila hanya asal entry tanpa paham betul exit-nya dimana.

Scalpers pun saya yakin paham betul dimana harus exit. Meskipun profit yang diambil kecil, tetapi mereka tetap harus paham entry dan exit yang baik berada dimana. Kalau tidak, maka sekali loss akan menghabiskan profit yang sebelumnya berhasil diperoleh, apalagi kalau RR-nya sangat buruk.

Oleh karenanya, jangan terburu-buru memikirkan membuat EA. Gunakan manual trading dahulu sampai benar-benar paham dan akhirnya yang semula hanyalah sekedar "feel" dapat diubah menjadi "logic". Yang diperlukan hanyalah 1 konsep trading yang cocok dengan karakter dan telah terbukti profitable, apapun nama konsepnya.

Silahkan saja menggunakan konsep candlestick pattern, menggunakan indikator, menggunakan fibonacci, menggunakan pitchfork, menggunakan trend line, dan lain sebagainya. Terdapat banyak sekali metode trading dalam forex, yang Pak Aras perlukan hanya 1 saja yang cocok dengan diri sendiri.

Jangan paksakan diri trading tanpa indikator kalau malah makin membingungkan. Hal tersebut dapat diibaratkan seperti halnya Pak Aras diminta mengupas kelapa dengan hanya menggunakan gigi, padahal Pak Aras bukan pemain debus. Belajarlah ilmu debus dahulu dan sementara dalam proses belajar, tetap gunakan golok untuk mengupasnya. Jangan pernah nekad kalau belum ahli kalau tidak ingin gigi rontok :)

Seperti yang telah ditulis sebelumnya, trading adalah masalah cara pikir dan cara pandang. Pak Aras masih menganggap bahwa indikator-indikator malah memberikan keputusan yang tidak sepenuhnya baik (false signal). Tapi suatu hari nanti Pak Aras akan memahami bahwa hal tersebut salah.

Ibarat memandang sebuah puzzle, Pak Aras sudah merasa potongan-potongannya tidak akan mungkin untuk disusun. Coba pikir baik-baik, buat apa indikator dibuat kalau tujuannya hanya untuk menyesatkan dan menyengsarakan kita semua. Buat apa sebuah puzzle dibuat kalau tidak mungkin untuk disusun ulang. Pasti ada caranya, problemnya hanya satu, maukah kita meluangkan waktu untuk duduk dengan telaten dan tekun memikirkan cara untuk menyusun puzzle tersebut? Yang pasti, tidak banyak yang mampu mendedikasikan sepenuh waktunya dan memiliki totalitas untuk mengalahkan forex.

Saran saya, coba duduk lagi, teliti ulang dengan baik dan berusahalah memahami "denyut"-nya, nantinya Pak Aras akan paham bahwa problemnya bukan terletak pada indikator, tetapi terletak pada cara pikir dan cara pandang sendiri.

Sebenarnya jawabannya ada di depan mata kita, hanya karena cara pikir dan cara pandang masih salah, akibatnya jawaban tersebut menjadi tidak nampak. Sama halnya dengan hidup ini, masih ingat bukan waktu kecil kita sangat kesal dan jengkel bila dimarahi oleh orang tua. Nah, setelah dewasa baru kita menyadari bahwa orang tua memarahi dengan tujuan baik untuk membentuk mental dan pribadi kita.

Temukan cara pikir dan cara pandang tersebut, saya yakin Pak Aras akan menjadi trader jagoan suatu hari nanti.

Trading tidak hanya sekedar buy atau sell, tidak hanya sekedar pemahaman technical, tidak sekedar pemahaman candlestick, tetapi juga meliputi emosi dan disiplin. Saya sendiri pun masih lemah dalam hal disiplin, kadang kala godaan membesarkan stoploss masih sangat tinggi.

Disitulah letak perbedaan antara pemula dan professional, mereka disiplin dan tidak pernah ragu. Bila trading tidak sesuai dengan yang direncanakan (artinya mereka paham betul arah akan kemana, entry dimana, dan exit dimana), maka dengan tidak lagi ada ragu-ragu atau sayang-sayang, stop akan dilakukan.

Kenapa kita seringkali ragu dan tidak berani melakukan stop? Karena kita tidak paham betul apa yang sedang terjadi sehingga akhirnya timbul harapan. Harapan arah akan berbalik lagi, harapan candle akan bergerak lebih tinggi lagi, yang semuanya bukanlah menjadikan kondisi lebih baik, tetapi justru lebih sering menghancurkan.

Jangan pernah tidak disiplin dengan stoploss. Berani lakukan karena arti stoploss disamping penghematan agar modal tidak segera habis, juga merupakan pembelajaran bahwa yang dilakukan masih belum benar.

Oleh karenanya, dalam blog ini saya tidak pernah menulis tentang trading system, indikator, atau analisa technical. Disamping sudah banyak terdapat di forum-forum forex atau website di internet, juga saya meyakini bahwa trading system adalah manifestasi dari karakter diri. Percuma saja menulis atau membahasnya karena belum tentu cocok dengan karakter masing-masing.

Lebih berguna menulis tentang hal-hal yang berkaitan dengan cara pikir dan cara pandang, karena hal itulah yang akan membentuk karakter sehingga dapat memandang trading dari sisi yang lebih tepat. Kalau cara pikir dan cara pandang sudah ketemu, maka akan sangat mudah nantinya untuk membentuk system trading yang sesuai dengan diri sendiri.

Perihal usul untuk melakukan uji coba pembandingan broker FX Clearing, akan segera dilakukan. Meskipun hasil googling dengan keyword "FX Clearing scam" banyak sekali menemukan ulasan yang tidak baik, tetapi tetap tidak ada salahnya untuk dibandingkan dengan broker lain.

Terima kasih atas perhatiannya akan account Andromeda Live. Tetapi itulah contoh trading yang dilakukan oleh pemula, stop loss-nya guede buanget... :) Stop loss hanya hanya boleh diperbesar apabila dalam kondisi ranging atau yakin bahwa yang terjadi hanyalah sekedar retrace. Tetapi jangan pernah membesarkan stop loss atau menambah jumlah lot apabila entry jelas-jelas melawan arah trend. Nah, itulah yang tidak disadarinya karena timbul harapan bahwa arah akan berbalik. Ya tidak apa-apa, biar pemiliknya puas dahulu dan paham bahwa meskipun hanya sekedar buy atau sell, tetap saja tidak semudah yang dibayangkan.

Kalau drop seperti itu terjadi pada masa awal belajar trading dulu, tentunya saya pun akan kebingungan memikirkan bagaimana cara untuk melakukan recovery. Tentunya tidak ada cara lain selain menambah deposit. Tetapi dengan hasil trading di demo yang dalam sehari saja hasilnya fantastis, drop tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Faith issue timbul dikarenakan:

Perfectionism is self-abuse of the highest order.
— ANN WILSON SCHAEF —

Dianggap terlalu perfeksionis sehingga kelamaan. Uang di depan mata kok dibiarkan tergeletak dan gak buru-buru diambil.. :)

Perfeksionis memang tidak baik apabila dilakukan dalam waktu sempit dimana harus segera mengambil keputusan. Akibatnya akan ketinggalan kereta kalau terlalu lama memikirkan. Akan tetapi, dalam forex sulit membedakan antara perfeksionis dan masih belajar memahami. Kenapa sulit dibedakan? Karena keduanya sama-sama memerlukan waktu yang lama... :)

Justru dalam forex berusahalah agar menjadi perfeksionis, karena hal inilah yang akan menyelamatkan account. Tidak mungkin account akan selamat kalau menentukan arah trend saja masih bingung.

Kadang kala orang mengambil kata-kata bijak tanpa memahami kapan saat yang tepat digunakan dan akhirnya menghantam rata saja. Perfeksionis akan buruk bila dilakukan di hal yang mudah karena akibatnya yang mudah menjadi akan lebih sulit. Tetapi perfeksionis akan sangat baik bila dilakukan dalam kondisi yang penuh resiko yang perlu pertimbangan matang.

Tidak mungkin selamat melewati ladang ranjau kalau tidak berusaha perfeksionis. Tetapi jangan pernah perfeksionis kalau yang dilakukan hanya memasak, keburu lapar. Market tidak akan pernah kemana-mana, sampai 100 tahun pun masih tetap akan ada. Bentuk pemahaman yang mendalam dahulu, baru kemudian terjun ke market.

Pelajaran bijak yang diperoleh dari hal ini, jangan pernah meremehkan dan terburu-buru berusaha menghasilkan uang dari forex. Semakin nafsu akan uang, maka akibatnya akan menghancurkan. Bukankah telah banyak petuah bijak yang mengatakan bahwa keserakahan adalah awal malapetaka.

Yang utama di forex, bukanlah terburu-buru untuk segera menghasilkan uang, tetapi menemukan cara yang tepat untuk konsisten profit. Biarpun lama dan lamban, tetapi begitu cara tersebut berhasil ditemukan, maka menghasilkan profit 100% tiap hari sangat mungkin untuk dapat diwujudkan, seperti halnya trading demo di atas.

Sementara menunggu "faith issue" terselesaikan, trading di demo dahulu untuk memuluskan strategi exit. Karena bila issue tersebut terselesaikan, siapa lagi yang diberi tugas untuk melakukan recovery... :)

Akhir kata, semoga Pak Aras menjadi makin jelas akan pentingnya optimal exit.

Disarankan untuk lebih banyak mengkonsumsi rebung bambu, agar penglihatannya dapat setajam mata Panda... :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar