Selasa, 08 Februari 2011

Faith

Pernahkah terbayang di diri Anda, betapa berat pekerjaan dan tanggung jawab yang diemban oleh seorang sopir pribadi? Dia harus setiap hari mampu membawa mobil dan majikan agar selamat sampai tempat tujuan.

Tidak semua majikan paham akan beratnya tanggung jawab yang ada di pundak sopir tersebut. Coba pikir, mana ada jalanan yang dapat diprediksi? Bisa saja ada motor yang mendadak memotong, bisa saja ada yang menyeberang tiba-tiba, terdapat seribu satu kemungkinan yang dapat terjadi di jalanan.

Tetapi kenapa sopir bersedia mengemban tanggung jawab tersebut? Karena pengalaman dan jam terbangnya. Memang yang nantinya terjadi di jalan tidak dapat diprediksi, tetapi pengalaman dan jam terbang yang dimilikinya mengakibatkan dia mampu mengantisipasinya.

Menjaga jarak aman dengan kendaraan lain, mengerem pada saat di perempatan untuk mengantisipasi, tetapi yang tidak terkalahkan oleh orang lain adalah pengalaman. Pengalaman mendidiknya untuk bereaksi cepat apabila terjadi hal tidak terduga.

Hal ini terjadi dan dibuktikan oleh saya sendiri. Suatu senin pagi yang "apes", pada saat sopir hendak menyalip motor, tanpa diduga dan tanpa sebelumnya oleng kanan kiri, 2 orang pengendara sepeda motor tersebut terlempar jatuh. Sialnya lagi, yang 1 orang jatuhnya tepat di depan mobil yang sedang melaju kencang karena hendak menyalip.

Jatuhnya pengendara motor tersebut dikarenakan terkena lobang di jalan. Kemungkinan, rem depan motor tersebut tidak beres, sehingga begitu ban depan motornya masuk lobang maka rem langsung terkunci. Akibatnya, pengendaranya langsung terlempar jatuh tanpa dapat diduga.

Tentunya sopir pun tidak mengira dan tidak mengantisipasi akan terjadi hal tersebut. Bagaimana bisa mengantisipasi, tanpa peringatan apapun dan tanpa oleng kanan kiri terlebih dahulu, tiba-tiba saja orangnya sudah jatuh di depan mobil. Tapi pengalaman yang membuat refleknya untuk bergerak cepat langsung mengerem.

Saat itu, saya rasakan sendiri bagaimana rasanya ban mobil melindas (entah bagian mananya). Masih merinding ngeri bulu kuduk saya kalau mengingat kejadian tersebut. Tetapi sopir dengan tenangnya memundurkan mobil (dan melindas ulang, ngeri...), kemudian turun dan langsung menggotong orang tersebut ke pinggir jalan.

Tahukah Anda yang terjadi pada diri saya? Saya hanya mematung dalam mobil, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Setelah diberi pertolongan ala kadarnya di pinggir jalan, kembali si sopir menggotong orang tersebut masuk ke dalam mobil membawanya ke rumah sakit. Baru saya tersadar dan mulai bisa bereaksi. Tuhan masih berbaik hati, dengan berada tepat di depan mobil dan dengan jarak sedekat itu, ditambah kencangnya laju mobil karena hendak menyalip, orang tersebut hanya terlindas telapak tanggannya saja. Bagi saya, kejadian tersebut adalah mukjizat Tuhan, rasanya sudah tidak mungkin selamat karena saya melihat dengan mata kepala sendiri orang tersebut sudah berada di bawah mobil yang masih melaju.

Tidak terbayang bukan kalau yang terlindas kepalanya atau bagian tubuh lain? Pasti akan fatal akibatnya dan sudah jelas si sopir juga masuk penjara. Untung hanya telapak tangan, tidak terlalu parah karena hasil pengecekan rumah sakit menunjukkan tidak terdapat tulang yang patah dan hanya luka luar yang hanya perlu beberapa jahitan.

Sejak kejadian tersebut, saya menjadi lebih menghargai si sopir. Disamping kemampuan mengemudinya lebih baik, dia juga memiliki kemampuan bereaksi cepat mengantisipasi segala segala hal yang terjadi di jalanan daripada saya sendiri. Bayangkan bila pada hari itu saya yang mengemudi, belum tentu orang tersebut selamat karena reaksi pengereman tidak secepat sopir.

Oleh karenanya, saya maklumi saja kalau saat ini mobil hanya sekedar lecet-lecet. Tidak mungkin mobil akan tetap mulus tanpa lecet kalau digunakan di jalanan yang segala halnya tidak dapat diduga. Tetapi saya tetap beryakinan bahwa dengan jam terbang dan pengalamaan si sopir, tentunya dia akan berusaha semaksimal mungkin menghindari tabrakan fatal (kecuali Tuhan berkehendak lain). Yang penting saya bisa sampai tujuan dengan selamat, juga nyaman karena tidak dipusingkan dengan jalanan.

Kalau sudah berniat menggunakan sopir, ya sudah, tutup mata saja dengan jalanan dan nikmati dengan membaca koran. Tanpa dikomando pun, sopir sudah paham betul apa yang harus dilakukan. Santai saja kalau hanya sekedar menyerempet, toh hanya lecet sedikit. Tentunya sopir memiliki rasa tanggung jawab, tidak mungkin dia mengemudi dengan ngawur, dia juga harus menjaga pekerjaan sekaligus nyawanya, disamping nyawa majikannya dan keutuhan mobil.

Tetapi tidak semua majikan berpikiran seperti itu, banyak juga yang cerewet, seolah-olah lebih pintar mengemudi daripada sopir. Hal ini sebenarnya menunjukkan ketidakpercayaan. Nah, kalau tidak percaya dikemudikan oleh orang lain, kenapa juga harus repot menggunakan sopir, kemudikan saja sendiri khan :)

Sopir saya bercerita, pernah terjadi seorang temannya yang juga sopir, akhirnya turun ditengah jalan dan meninggal majikan beserta mobilnya karena sudah sangat jengkel. Bagaimana tidak jengkel, sepanjang jalan diomeli terus menerus dan diajari cara menyetir yang baik seolah-olah si sopir baru saja belajar mengemudi kemarin. Nah, yang kebingungan majikannya, karena kebetulan si majikan ini adalah perempuan dan tidak bisa mengemudi, ditinggal di tengah jalan pula oleh si sopir.. :)

Pembelajarannya, kalau Anda sudah menentukan pilihan, belajarlah untuk mempercayainya (faith).

Jangan pernah sok pintar, hargai keahlian orang lain, meskipun hanyalah seorang sopir. Dia berani melamar menjadi sopir karena dia yakin akan keahliannya. Sepintar apapun Anda, tidak akan pernah bisa mengalahkan sopir. Dia sepenuhnya menggunakan waktunya untuk belajar menjadi sopir yang baik, sedangkan Anda tidak. Sudah jelas dia akan lebih ahli daripada Anda, meskipun sopir tersebut hanyalah lulusan sekolah dasar.

Pada dasarnya, sangat jarang manusia yang tidak bertanggung jawab. Mereka pasti berusaha melakukan yang terbaik, baik bagi dirinya maupun bagi kepentingan yang lain.

Oleh karena itu, mohon maklum apabila live account Andromeda Live dan account-account lainnya memiliki hasil yang buruk.

Karena sejak kemarin, "sopir" account-account tersebut bukan lagi saya, tetapi pemilik account-nya sendiri yang mencoba berusaha menjadi "sopir". Karena menurutnya trading adalah hal yang sangat gampang, hanya buy dan sell saja kok repot amat :)

Mungkin memang harus begini, harus dicoba menabrak "orang" terlebih dahulu, baru kemudian di masa mendatang pekerjaan "sopir" dapat lebih dihargai.

Sekali lagi, mohon maaf dan mohon maklum adanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar