Rabu, 16 Februari 2011

Entry & Exit Strategy (#3)

Pak Ary,

Trims untuk artikelnya, tidak perlu terburu-buru untuk membalas, Pak. Jangan sampai menganggu aktivitas penting lainnya. :) Terima kasih juga karena telah mempertimbangkan FX Clearing untuk diuji coba. Tentunya seiring waktu berjalan, saya berharap broker tersebut dapat memperbaiki kualitasnya sehingga tidak di-cap sebagai broker scam lagi.

Tentang Exit Strategy

Saya mulai mengerti tentang konsep sebuah Exit yang baik. Asumsi yang saya dapatkan dari konsep tersebut adalah tentang bagaimana kita memperoleh hasil profit yang optimal, misalnya dengan cara memaksimalkan poin demi poin dari pergerakan trend.

Dari konsep tersebut juga saya mulai mendapatkan tentang stop/cut loss yang optimal dimana sebuah cut loss haruslah terjadi apabila memang terjadi perubahan trend secara drastis (jika mengikuti contoh diatas).

Saat ini saya pun sudah mulai memahami walaupun masih harus mencoba untuk mengubah persepsi Exit yang lama. Sembari mencoba untuk terus memberikan konsep yang terbaik untuk mengasah skill trading khususnya Exit Strategy, maka saya juga harus mencari dan mencoba strategi Entry yang terbaik khususnya jika konsep trading yang digunakan adalah Trending.

Strategi Trading

Setelah membaca beberapa artikel di blog Pak Ary, khususnya yang berhubungan dengan konsep strategi trading, saya baru menyadari bahwa selama ini strategi yang saya miliki tidak optimal, atau bahasa halusnya membuang terlalu banyak kesempatan dari market yang sebenarnya sudah tersedia.

Sejak awal mulai berkecimpung dalam dunia Forex, saya sudah diperkenalkan dengan bagaimana cara mengikuti Trend tapi saya tidak pernah menggunakan secara maksimal. Yang terjadi adalah 'memetik' saat 'buah' masih 'mentah' (Scalping). Seandainya saya mau menunggu 'buah' tersebut hingga 'ranum' tentunya hasilnya pasti lebih enak.

Nah, dikarenakan hingga saat ini saya sudah terlalu cukup puas untuk mendapatkan profit secara kecil"an melalui minor trend (yang terkadang bisa berbalik arah dengan cepat) atau terkadang hanya feeling, maka untuk menentukan trend besar menjadi kesulitan bagi saya. Mungkin Pak Ary dapat berbagi caranya supaya saya mampu menunggu 'buah' tersebut hingga matang atau ranum. Walaupun banyak forum-forum yang membahas tentang hal tersebut, namun ada baiknya saya dan pembaca lainnya mendapatkan sedikit pembahasan langsung dari Pak Ary.

Melihat hasil demo yang didapatkan Pak Ary tentunya sangat mengagumkan. Untungnya masih dilakukan pada demo sehingga saya tidak perlu terlalu 'iri'. :) tapi pertanyaan yang muncul, kenapa hanya dilakukan pada demo, Pak? Apakah expert yang sedang disusun masih mengalami kendala?

Trading Emotional

Seperti yang Pak Ary sampaikan dalam artikel bahwa terkadang masih kurang disiplin dalam melakukan trading, terutama saat stop loss. Bukannya mengambil stop loss tapi malah memperbesarnya.

Tidak hanya masalah disiplin, tapi juga masalah emosional saat trading. Saya terkadang melakukan 'balas dendam' setelah mengalami loss. Tentunya terkadang berhasil terkadang tidak, dan seperti yang sudah diketahui justru lebih banyak tidak berhasilnya sebab trading yang dilakukan sudah tidak rasional lagi.

Masih banyak lagi hal-hal manusiawi yang menjadi faktor penghambat dalam melakukan trading. Oleh sebab itu expert digunakan. Walaupun demikian, bukan berarti sebuah expert terhindar dari kelemahan. News Impact dapat mengubah pola kerja expert.

Sebuah expert yang ditulis berdasarkan perhitungan" indikator tentunya tidak akan memberikan hasil yang baik jika tingkat akurasi indikator yang digunakan tidak valid (apalagi sangat terpengaruh dengan news impact).

Indikator

Mengenai indikator yang sebelumnya sempat saya perdebatkan, barulah saya juga menyadari bahwa paradigma saya tidak sepenuhnya benar.

Speedometer kendaraan bergerak sesuai dengan kecepatan putar roda. Tidak mungkin jarum speedometer menunjukkan angka 80 km/h, misalnya, kalau kendaraan sedang tidak bergerak, kecuali speedometer tersebut memang rusak. Jarum penunjuk hanya mengikuti 'input' dari perputaran roda saja. Begitu juga dengan indikator. Nah, paradigmanya adalah, dengan Speedometer, kita sebagai pengendara mampu melihat kecepatan yang telah kita tempuh, apakah terlalu cepat untuk melaju di jalan arteri, apakah terlalu lambat untuk melaju di jalan tol, dsb.

Contoh lainnya, pengukur tekanan angin hanya mengikuti seberapa besar tekanan dari ban kendaraan. Semakin besar tekanan dari ban, maka semakin tinggi angka indikator pengukur. Sekali lagi, logikanya jelas bahwa jarum pengukur bergerak mengikuti 'input' angin yang ada dari ban. Tapi dengan adanya pengukur tekanan itu saya menjadi tau kapan saya harus mengisi angin yang pas, tidak terlalu keras tapi juga tidak terlalu kempes.

Begitulah paradigma yang saat ini sudah saya ralat. Trims untuk nasehat Pak Ary sebelumnya. Tentunya paradigma baru ini harus saya coba secepatnya dalam Forex.

Ini dulu yang dapat saya sampaikan. Trims untuk perhatiannya.

Regards,
Aras




Pak Aras,

Saya sangat senang sekali bahwa Pak Aras dapat terbantu dengan artikel-artikel yang ditulis di blog ini. Belajar trading dapat diibaratkan seperti halnya sekolah atau kuliah, dimana pemahaman yang diperoleh berkembang sedikit demi sedikit. Sepanjang tekun untuk tetap berkeinginan belajar dan tidak pernah berhenti mencoba, saya yakin suatu saat nanti Pak Aras akan memiliki pemahaman yang lebih baik.

Percobaan uji coba strategi exit yang baru masih dilakukan di demo dikarenakan belum sempurna. Uji coba masih perlu dilakukan pada berbagai kondisi market yang berbeda agar dapat diketahui apakah strategi tersebut dapat mengadaptasi seluruh kondisi market. Oleh karenanya masih diterapkan di demo account terlebih dahulu sampai akhirnya telah terbukti baik dan dapat mengantisipasi seluruh kondisi yang terjadi.

Disamping itu, dengan kondisi live account yang mengalami loss akibat sebelumnya digunakan trading oleh pemiliknya, tentunya pada saat saya kembali melakukan trading di live account tersebut harus diupayakan kesalahan seminimal mungkin agar dapat melakukan recovery dengan cepat. Kesalahan sudah tidak boleh terjadi agar modal tidak tergerus menjadi semakin kecil.

Pemahaman yang salah perihal trading, tidak hanya terjadi pada Pak Aras saja, saya pun sama saja. Saya rasa semua yang belajar trading memulai dari pemahaman salah terlebih dahulu dan baru kemudian secara perlahan-lahan beralih menuju ke yang benar. Oleh karenanya, jangan pernah takut untuk melakukan kesalahan dan kegagalan, karena sebenarnya disitulah tangan Tuhan akan mulai bekerja untuk membimbing.

Kebanyakan takut atau malu mengakui kesalahan atau kegagalan karena takut dianggap bodoh. Padahal, semua yang saat ini pintar, dahulunya adalah bodoh. Tetapi mereka lebih berani melakukan kesalahan, kebodohan, dan kegagalan tanpa peduli anggapan yang lain akan diri mereka. Dari hal-hal tersebutlah kemudian mereka belajar untuk memamahi dan melakukan dengan benar sehingga akhirnya mereka dianggap pintar dan sukses saat ini.

Oleh karenanya, saya salut dengan Pak Aras yang tidak malu dan tidak takut untuk mengakui bahwa sebelumnya memahami dengan cara pandang yang tidak benar. Asal Pak Aras tahu, tidak banyak orang yang mampu secara ksatria mengakui kesalahannya sendiri. Kebanyakan selalu berusaha membenarkan dirinya dan menganggap kesalahan timbul dari pihak lain.

Hal tersebut merupakan sebuah awal yang baik, karena trading tidak memperkenankan adanya hal buruk ada di dalam diri. Tidak akan pernah bisa melakukan trading dengan hasil profit apabila ada sifat-sifat buruk berada dalam diri. Prinsipnya, kalahkan kegelapan dalam diri sendiri terlebih dahulu, agar kemudian dapat mengalahkan market.

Jangan pernah salahkan market atau indikator. Percuma saja, karena akan semakin jauh dari kenyataan dan akibatnya akan loss terus menerus. Lakukan hal sebaliknya, yaitu berusahalah memahaminya. Keberhasilan dalam bidang apapun selalu dimulai bila ada kemauan untuk memahami dan mampu mengakui serta memperbaiki kesalahan.

Market sebenarnya hanyalah jalan dari Monas menuju Glodok. Pola yang terjadi hanyalah itu-itu saja. Oleh karenanya, tidak apa-apa jatuh tersandung berkali-kali, toh masih berada di jalan yang sama. Akan tetapi, selalu berusahalah pahami kenapa sampai tersandung dan hapalkan letak batu sandungan tersebut.

Tersandung dan jatuh hanyalah karena masih belum hafal letak batunya. Tetapi bayangkan bila telah tersandung 1000 kali, hal tersebut dapat diartikan bahwa telah ada 1000 batu sandungan yang telah berhasil dihafalkan letaknya. Dengan demikian, menjadi lebih semakin sedikit bukan sisa batu yang belum diketahui letaknya.

Trading pada dasarnya hanyalah tergantung pada pola pikir dan paradigma. Bila telah ditemukan paradigma yang tepat, tentunya trading akan menjadi mudah. Akan tetapi, paradigma yang tepat tidak akan dapat ditemukan dengan hanya sekali melangkah. Harus berani terus menerus mencoba dan tidak takut salah atau gagal, dengan demikian secara perlahan-lahan paradigma yang tepat akan ditemukan.

Oleh karenanya, jangan pernah berhenti mencoba. Kita tidak pernah tahu apakah keberhasilan tinggal selangkah atau 100 langkah lagi. Lakukan terus sampai akhirnya kesuksesan berhasil diraih.

Terima kasih untuk Pak Aras yang telah dengan setia membaca blog ini serta turut berpartisipasi menyumbangkan tulisannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar