Rabu, 16 Juni 2010

Bursa, Apakah Itu?

Saya yakin pasti Anda semua sudah tahu dengan pasar.

Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli dimana akhirnya terjadi pertukaran.

Barang yang dijual oleh penjual ditukar dengan uang oleh pembeli yang membutuhkan.

Perhatikan di pasar tradisional, berbagai jenis pedagang menggelar dagangannya dan pembeli bisa melihat-lihat serta memilih langsung barang dagangan tersebut, bila dirasa harganya cocok maka barang akan dibeli.

Bursa sebenarnya mirip dengan pasar tradisional diatas, hanya saja perbedaannya penjual dan pembeli tidak bisa bertemu langsung, harus ada perantara (broker) yang menjembatani antara pembeli dan penjual.

Agar mudah dipahami, bayangkan sebuah pasar tradisional tetapi tidak seperti layaknya pasar biasa, pasar ini disekelilingnya dipagari dengan tembok kaca tembus pandang yang sangat tinggi.

Penjual dan pembeli tidak dapat dengan bebas masuk ke dalam pasar tersebut. Penjual dan pembeli berada di luar pagar tembok tinggi, sedangkan yang ada di dalam tembok hanyalah perantara (broker).


Apa gunanya pasar bila penjual dan pembeli tidak dapat masuk ke pasar?

Bagaimana transaksi jual beli dapat dilakukan?

Tujuan pembeli dan penjual tidak boleh masuk ke dalam pasar adalah ketertiban sehingga pengelola pasar akan lebih mudah mengawasi.

Coba perhatikan pasar tradisional, semrawut bukan? Kesemrawutan dikarenakan banyak penjual dan banyak pembeli langsung bertemu di satu tempat dan biasanya pada waktu yang bersamaan.

Bayangkan bila hanya sedikit penjual, meskipun pembelinya banyak tetapi bila pembeli antre dengan tertib maka tidak akan semrawut. Konsep seperti inilah yang diaplikasikan di pasar modern.

Coba lihat hyper market Carrefour, sangat tertib dan teratur dibandingkan pasar tradisional. Hal ini dikarenakan tidak ada penjual di dalam Carrefour, seluruh penjual diminta menitipkan barangnya dan Carrefour hanya bertindak sebagai perantara.

Carrefour tidaklah memproduksi barang sendiri, tetapi hanya mengumpulkan barang dari berbagai penjual dan menaruh semua barang tersebut di satu tempat dengan tujuan untuk memudahkan pembeli.

Berbeda dengan bursa, pada bursa tidak hanya pembeli saja yang dimudahkan, tetapi penjual juga dimudahkan menjual yang dimilikinya dengan cara menitipkan ke perantara. Otoritas pengawas bursa juga dimudahkan, karena tidak harus mengawasi banyak pembeli dan penjual sekaligus, tetapi cukup hanya mengawasi para perantara yang beroperasi di dalam bursa.

Kembali kepada contoh pasar dengan tembok tinggi diatas, penjual mangga tidak dapat langsung menggelar dagangan mangganya di dalam pasar, dia harus menitipkan mangga tersebut kepada perantara. Perantara yang akan menggelar dagangan tersebut di dalam pasar disertai harga yang sudah ditentukan oleh penjual.

Meskipun temboknya sangat tinggi, tetapi karena terbuat dari kaca yang tembus pandang, begitu mangga tersebut digelar di tengah pasar, para pembeli langsunng bisa mengetahui bahwa 10 buah mangga (volume) yang akan dijual dengan harga, misalnya, 5000 Rupiah (Open Price).

Pembeli pertama mungkin berfikir. wah... kok 5000 Rupiah ya, masih terlalu mahal, coba ditawar saja di harga 4000 Rupiah, boleh tidak ya?

Sedangkan pembeli kedua berfikir, sepertinya harga mangga akan naik menjadi 6000 Rupiah, musim seperti ini mangga khan jarang, harga 500 Rupiah tidak masalah, toh nanti kalau dijual lagi masih bisa untung 1000 Rupiah.

Nah, pembeli pertama dan kedua langsung berteriak-teriak memanggil perantara.

Pembeli pertama akan bilang ke perantara, coba ditawar saja di harga 4000 Rupiah (Bid Price), siapa tahu dikasih.

Pembeli kedua juga akan bilang ke perantara, sudahlah langsung beli saja di harga 5000 Rupiah, aku yakin harganya masih bakal naik lagi kok.

Perantara akan memberitahu ke penjual bahwa ada 2 orang pembeli, yang satu menawar di harga 4000 (Bid Price) sedangkan yang satu lagi juga menawar di harga 5000 (Bid Price).

Prinsip ekonomi, dimana-mana namanya penjual akan berusaha menjual barangnya semahal mungkin, sedangkan yang namanya pembeli selalu berusaha menawar semurah mungkin.

Tentunya si penjual akan memilih pembeli kedua yang berani menawar di harga 5000 Rupiah.

Penjual kemudian bilang ke perantara, ya sudahlah kasih saja di harga 5000 Rupiah.

Akhirnya, 10 buah mangga (volume) tersebut berpindah tangan ke pembeli kedua dengan harga yang telah disepakati 5000 Rupiah (Last Price).

Penjual tidak menerima uang 5000 penuh, tetapi hanya 4990 saja karena yang 10 Rupiah untuk membayar jasa perantara.

Demikian juga dengan pembeli kedua, yang dibayar tidak bulat 5000 Rupiah tetapi 5010 Rupiah karena yang 10 Rupiah untuk komisi perantara.

Pembeli kedua setelah menerima 10 buah mangga (volume) tidak langsung pulang, tetapi tetap berada di pasar dan berusaha menjualnya di harga 6000 Rupiah.

Pembeli kedua akan bilang ke perantara, coba pasang jual mangga itu di harga 6000 Rupiah (Ask Price). Karena ada instruksi tersebut, si perantara menggotong kembali mangga ke tengah-tengah pasar dan memasang tulisan "Dijual 10 buah mangga dengan harga 6000 Rupiah"

Pembeli ketiga yang baru saja datang di pasar langsung berfikir, wah... harga 6000 Rupiah murah sekali, sepertinya kalau dijual lagi bisa laku 8000 Rupiah.

Pembeli ketiga langsung memborong 10 buah mangga (volume) di harga 6000 Rupiah (Last Price) dan menjual kembali di harga 8000 Rupiah (Ask Price).

Pembeli kedua sangat gembira sekali, karena hanya berjualan 10 menit saja sudah bisa laba 1000 Rupiah (capital gain), mangga yang dibeli 5000 berhasil dijual di harga 6000, karena merasa sudah cukup maka pembeli kedua akan pulang.

Datang penjual mangga lainnya di pasar, penjual mangga ini memiliki mangga 200 buah dan berani menjual dengan harga 3000 Rupiah saja.

Pembeli-pembeli lain langsung memborong mangga yang murah ini, namanya juga pembeli yang selalu berusaha mencari harga yang murah, sehingga akibatnya mangga milik pembeli ketiga yang dijual di harga 8000 Rupiah tidak laku.

Pembeli ketiga ini langsung pusing 7 keliling akibat adanya mangga yang lebih murah dan merasa sudah merugi sebesar 3000 Rupiah (potensial loss) akibat mangga yang semula dibeli di harga 6000 dan sekarang hanya laku dijual di harga 3000.

Karena hari sudah semakin sore, pasar sudah menjelang tutup dan harga mangga tidak naik-naik juga, pembeli ketiga akhirnya putus asa dan menjual mangganya di harga 3000, akibatnya rugi 3000 Rupiah (real loss).

Sampai dengan pasar tutup, harga mangga tidak naik-naik juga dan tetap bertahan di 3000 (Closed Price).

Seperti itulah bursa saham, bursa forex, bursa komoditi, dan bursa-bursa yang lain bekerja. Gambaran diatas hanya gambaran sederhana agar mudah dipahami, karena bursa yang sebenarnya beroperasi jauh lebih kompleks daripada gambaran diatas.

Dari penjelasan diatas, Anda sudah mendapat gambaran bahwa untuk dapat melakukan transaksi di bursa, maka terlebih dahulu Anda harus mendaftarkan diri ke perantara (broker).

Anda tidak bisa datang langsung ke bursa dan melakukan transaksi, transaksi di bursa hanya bisa dilakukan oleh broker. Oleh karenanya Anda harus mendaftarkan diri terlebih dahulu ke broker dan menaruh uang modal Anda di broker, baru Anda bisa melakukan transaksi di bursa.

Dengan adanya teknologi komputer dan internet, sistem jual beli bursa sudah online dimana dengan jelas di monitor Anda akan terlihat, apa yang dijual, di harga berapa, jumlahnya berapa, berapa harga penawarannya, dan lain-lain.

Anda bisa melakukan transaksi dimanapun sepanjang terkoneksi secara online, silahkan saja melakukan transaksi di rumah, di kantor, di mobil, bahkan dari kamar mandi :)

Di bawah ini adalah gambaran proses jual beli saham yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI):



Kalau begitu, apa keuntungan Perantara?

Perantara mendapatkan uang jasa dari tiap penjualan atau pembelian yang difasilitasi olehnya.

Pembeli atau penjual kadang merugi kadang juga laba, tetapi yang tidak pernah kalah adalah perantara. Perantara akan selalu menang karena menikmati keuntungan uang jasa dari dua belah pihak.

Di bursa saham uang jasa tersebut disebut dengan komisi, yang biasanya merupakan persentase dari total nilai jual atau total nilai beli. Misalnya menjual saham 100 juta maka komisi perantara adalah 0,003% dari 100 juta.

Sedangkan di bursa Forex, uang jasa tersebut dinamakan spread yaitu selisih nilai jual dan nilai beli. Misalnya bila membeli Dollar nilainya 9300 sedangkan bila menjual nilainya 9250, selisih 50 Rupiah itulah yang dinamakan spread dan merupakan keuntungan yang dinikmati perantara.

Tetapi di Forex, kadang kala ada perantara yang mencampurkan keduanya, yaitu perantara disamping mendapatkan spread juga mendapatkan komisi.

Pada umumnya bila perantara tersebut memiliki reputasi yang baik, nilai spread akan jauh lebih kecil dibandingkan perantara yang lain tetapi sebagai kompensasinya timbul komisi sebagai pengganti nilai spread yang sangat kecil tersebut.

Banyak juga perantara yang nakal dan serakah, berusaha mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari spread dan komisi, selisih spread-nya sangat besar tetapi juga menerapkan sistem komisi yang sangat mahal. Biasanya perantara seperti ini umurnya tidak akan panjang karena begitu pelanggannya merasa dibodohi maka mereka akan beramai-ramai pindah ke perantara lain yang lebih murah.

Oleh karenanya, sebelum Anda terjun ke bursa, pilih-pilih terlebih dahulu perantara (broker) dengan cermat. Coba tanya teman yang lebih berpengalaman atau baca pendapat-pendapat di milis dan forum yang banyak bertebaran di internet.

Jangan sampai Anda salah pilih broker karena bisa-bisa uang modal Anda akan amblas seperti penah terjadi di tahun 2009 dimana uang modal klien digunakan oleh pemilik SariJaya Permana Sekuritas yang akibatnya sampai hari ini uang tersebut sulit dikembalikan.

Bagaimana caranya memilih broker yang baik, untuk saham maupun forex?

Sabar... tunggu tulisan selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar