Selasa, 15 Juni 2010

Kenapa Trading Tidak Mudah?

Pertanyaan ini gampang-gampang susah untuk dijawab.

Trading menjadi sangat sulit karena otak kita terbiasa dengan segala hal yang lurus dan tidak berkelok-kelok.

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu berusaha menjadikan yang tidak lurus menjadi lurus.

Contoh rumah Anda sendiri pasti berbentuk segi empat, kamar tidur Anda, jalan raya, dan lain sebagainya. Bahkan jalan raya yang tidak lurus, misalnya jalan di pegunungan, akhirnya dibuat menjadi lurus meskipun dengan konsekuensi harus mengepras gunung atau bukit.

Padahal pergerakan harga di market tidak dalam garis lurus, tetapi berbentuk gelombang yang naik turun.

Akibatnya, otak kita sangat sulit menerima hal tersebut karena terbiasa dengan segala hal yang lurus semenjak lahir.

Karena pada dasarnya kelok kelok gelombang harga adalah puzzle, tetapi karena mata dan otak Anda belum terbiasa maka Anda belum dapat membaca puzzle tersebut.

Anda bingung dan belum memahami apa maksud dari kelak kelok gelombang itu, pola apa yang sering terjadi, dimana puncak dan dasarnya, dan berbagai hal lain yang belum bisa Anda pahami karena belum terbiasa melihatnya.

Satu-satunya cara agar bisa melihat puzzle itu adalah memprogram ulang otak kita agar terbiasa dengan kelak kelok harga.

Bagaimana caranya?

Mudah, lihat saja kelak kelok gembang harga saham atau gelombang harga forex di monitor komputer Anda (screen time).

Bila Anda secara rutin tiap hari melakukan hal ini, maka suatu saat nanti Anda akan hafal sebagian besar pola kelak kelok gelombang harga yang terjadi.

Nantinya, Anda dengan mudah langsung bisa membaca kelak kelok gelombang harga tersebut seperti layaknya Anda membaca buku dan dalam beberapa detik saja Anda langsung bisa menentukan dan memprediksi arah gelombang selanjutnya menuju kemana.


Lho... kok mudah sekali, terus sulitnya dimana?

Disini menariknya, Anda harus menyadari bahwa otak Anda tidak sepintar Einstein :)

Tidak mungkin mengubah sesuatu yang sudah dibiasakan sejak lahir dalam waktu sekejab.

Otak manusia itu lamban, tidak secepat komputer yang tinggal install dan langsung jalan.

Perlu pengulangan terus menerus beribu-ribu kali bahkan jutaan kali agar otak bisa menerima dan berubah secara perlahan-lahan beradaptasi.

Masih ingat waktu sekolah dahulu, pulang sekolah harus mengulang pelajaran, nanti pun menjelang ujian juga masih harus mengulang pelajaran tersebut.

Hal ini karena otak kita lamban, jarang sekali yang memiliki otak yang hanya dengan sekali melihat atau sekali membaca langsung bisa mengingat.

Karena perlu pengulangan beribu bahkan jutaan kali, maka perlu waktu yang sangat panjang agar otak mulai beradaptasi.

Nah... disinilah baru timbul sulitnya, karena tidak semua orang mampu menghabiskan waktunya berjam-jam, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun hanya untuk mengamati dan menghapalkan gelombang harga di monitor secara terus menerus.

Banyak orang yang awalnya sangat bersemangat dan menggebu-gebu ingin belajar saham atau forex, akhirnya putus asa di tahap ini karena setelah terjun beberapa lama akhirnya menyadari bahwa dia tidak mampu melakukan screen time secara terus menerus karena bukan dunia yang dia sukai.

Disinilah seleksi alam secara otomatis terjadi, orang-orang yang menyadari bahwa trading ternyata bukan dunianya akan mundur perlahan-lahan.

Sedangkan orang-orang yang memang dilahirkan untuk cocok di dunia ini tidak akan pernah mundur, mereka secara terus menerus mempelajari gelombang pergerakan harga meskipun harus bertahun-tahun dilakukan tetapi mereka tetap tekun melakukannya.

Orang-orang seperti ini memiliki passion dan obsesi dengan dunia trading.

Passion dan obsesi sangatlah penting, karena bila Anda melakukan sesuatu yang Anda senangi maka rasa capek, memakan waktu lama tidak akan terasa karena hati Anda selalu senang.

Kenapa sebagian orang salah jalan?

Hal ini dikarenakan banyaknya uang yang beredar di dunia trading, cerita dari mulut ke mulut bahwa kalau main saham atau forex bisa menghasilkan laba fantastis ibarat gula yang mengundang banyak semut.

Semua beramai-ramai menyerbunya, tetapi seleksi alam akan terjadi, hanya semut yang terkuat yang selalu maju pantang mundur saja yang bisa mengambil bongkahan gula yang paling besar, semut-semut lain hanya memunguti remah-remah gula atau bahkan tidak sama sekali sehingga pada akhirnya akan bosan sendiri dan pergi meninggalkan karena menyadari tidak memiliki kemampuan lebih.


Perlu diketahui, trading adalah ilmu sulit, bahkan mungkin tersulit diantara ilmu-ilmu lainnya.

Sulit karena tidak ada patokan yang pasti, seluruhnya tidak ada yang pasti, sehingga amat sulit dipelajari.

Tidak sembarang orang mampu menguasainya, hanya yang tekun, memiliki passion dan obsesif saja yang bisa sukses di dunia ini.

Bila saat ini Anda masih merasa trading itu mudah, artinya Anda masih pemula dan masih belum sampai di tahapan ini.

Suatu hari nanti bila Anda terus berada di dunia ini, baru Anda akan menyadari bahwa semua hal yang ditulis diatas benar adanya.


Disamping itu, trading sebenarnya menyangkut psikologi.

Bila Anda berpribadi labil, tidak tenang, cepat emosi, sok pintar, kaku dan tidak fleksibel, maka dunia trading akan menjadi hal tersulit yang pernah Anda lakukan.

Trading memerlukan psikologi yang stabil dan tenang, bahkan harus tanpa emosi dan hanya mengandalkan kemampuan analisa dan kepala dingin.

Sifat serakah, lamban memutuskan, terlalu cepat bereaksi, tidak disiplin akan terlihat pada saat Anda melakukan trading sehingga seolah-olah Anda berkaca dengan keburukan-keburukan Anda sendiri.

Tiap kali Anda melakukan keburukan maka market akan menghajar Anda tanpa ampun dan Anda akan merugi.

Market tidak mengenal ampun, bila Anda tidak segera menyadari keburukan yang Anda lakukan maka market juga tidak segan-segan menghajar Anda berkali-kali sampai pada akhirnya Anda menyadari sendiri kesalahan dan keburukan yang telah Anda lakukan.

Anda dituntut bekerja seperti mesin, dimana sama sekali tidak memiliki emosi dan hanya mengandalkan kemampuan mata dan otak Anda untuk melakukan analisa.

Serakah merupakan sifat manusiawi, tidak ada yang salah dengan serakah, semua manusia memilikinya dan tetapi bila Anda menggunakan sifat serakah secara berlebihan pada saat trading maka bukannya laba yang diperoleh tetapi justru laba hilang akibat Anda menunda-nunda tidak segera take profit karena berharap masih bisa memperoleh laba yang lebih besar.

Ambil laba (take profit) secukupnya apabila dari hasil analisa memang sudah saatnya segera keluar dari market dan jangan biarkan sifat serakah menguasai diri Anda.

Tunggu harga saham turun sehingga Anda bisa membeli di harga yang lebih murah daripada merugi hanya gara-gara Anda serakah takut ketinggalan kereta dan terburu-buru membeli di harga yang sudah terlalu mahal.

Mungkin beberapa dari Anda masih belum memahami apa yang ditulis disini karena belum pernah melakukan trading atau sudah pernah trading tetapi masih belum lama berkecimpung.

Tapi saya yakin, suatu hari nanti Anda akan menyadari bahwa yang saya tulis disini ada benarnya. Karena yang saya tulis disini adalah pengalaman pribadi yang diperoleh dengan jatuh bangun di dunia saham dan forex selama bertahun-tahun.


Ibarat belajar naik sepeda, kalau tidak mau jatuh jangan berharap bisa naik sepeda.

Jangan takut jatuh dan jangan takut salah, dunia trading adalah dunia dimana kita belajar dari kesalahan agar kita bisa menjadi yang lebih baik lagi dengan tidak melakukan kesalahan yang sama.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar