Minggu, 13 Juni 2010

Investasi atau Spekulasi

Pada dasarnya, semua jenis investasi, baik di sektor riil maupun di sektor finansial, memiliki kemungkinan merugi.

Besarnya potensi kerugian akan sebanding dengan besarnya potensi keuntungan yang dapat kita peroleh. Semakin besar potensi keuntungan yang dapat diperoleh, maka semakin besar juga potensi kerugian yang dapat ditimbulkan dan sebaliknya.

Dalam melakukan investasi, investor dituntut untuk berkorban. Disamping dituntut mengorbankan dananya untuk dijadikan modal usaha, juga harus mengorbankan waktu dan pikirannya agar memiliki pengetahuan yang mendalam pada bidang investasi yang digelutinya.

Dengan demikian, modal yang ditanamkan akan tetap terjaga aman dan diharapkan dapat menghasilkan pengembalian yang layak di kemudian hari. Hal seperti inilah yang disebut sebagai investasi.

Dengan makin berkembangnya teknologi internet dan makin mudahnya akses ke sektor finansial, menyebabkan masyarakat awam dapat dengan mudah melakukan investasi di sektor finansial tanpa memiliki pemahaman dan pengetahuan yang cukup. Iming-iming bahwa investasi saham adalah high return investment mengakibatkan masyarakat awam berduyun-duyun terjun ke bursa dengan membawa mimpi akan menjadi kaya raya dalam sekejap mata tanpa harus bersusah payah.

Akibatnya, bukan investasi lagi yang dilakukan, tetapi spekulasi.

Setiap orang yang membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, meskipun mereka ini sebenarnya adalah spekulan.

Akibatnya timbul pandangan negatif tentang investasi saham, dengan berbagai alasan seperti "tidak aman", "spekulatif", "judi/gambling", dsb. Karena mereka ini tidak berbekal pemahaman dan pengetahuan yang cukup, sehingga transaksi jual dan beli saham dilakukan hanya berdasarkan intuisi dan metode tebak-tebakan seperti layaknya judi.

Dalam investasi di sektor finansial, hanya 20% saja investor yang benar-benar professional dan berhasil menuai keuntungan dengan konsisten. Selebihnya adalah spekulan yang mencoba-coba keberuntungannya.

Bila pernah melakukan investasi di bursa, mungkin Anda berpikir termasuk kategori yang manakah Anda.

Mudah menjawabnya, apabila selama investasi di bursa saham Anda selalu konsisten memperoleh laba maka Anda layak disebut sebagai professional investor atau trader.

Akan tetapi bila Anda hanya sekali-sekali laba kemudian lebih banyak meruginya, maka Anda termasuk kategori spekulan yang melakukan investasi berdasarkan intuisi, saran dari pialang, rumor bursa yang menyesatkan, dan keberuntungan tebak-tebakan Anda.

Pada umumnya para spekulan merasa bahwa diri mereka adalah investor dan bukan hanya sekedar spekulan. Mereka berusaha membohongi diri mereka sendiri dengan menanamkan pikiran-pikiran seperti ini:
1. Berspekulasi tetapi berpikir sedang berinvestasi dan tidak sadar kalau sebenarnya sedang berspekulasi.
2. Berspekulasi dengan serius, padahal ilmu, pengetahuan dan kemampuannya tidak mencukupi untuk itu.
3. Berspekulasi dalam jumlah yang terlalu besar, padahal sebenarnya tidak mampu untuk kehilangan uang sejumlah itu.


Sebelum menanamkan uang Anda, hal penting yang harus diingat, spekulasi maupun investasi keduanya sama-sama dapat menyebabkan kehilangan uang karena merugi. Bedanya spekulasi dapat menyebabkan kehilangan uang lebih banyak dibanding investasi.

Spekulasi memang mengasyikkan, terutama saat sedang menang. Jika Anda ingin mencoba keberuntungan Anda, pisahkan sebagian uang Anda. Semakin sedikit semakin baik, sebagai dana untuk spekulasi.

Jangan pernah menambahkan uang ke dalam dana ini hanya karena Anda sedang menang. Itu justru saatnya untuk menarik sebagian uang dari dana spekulasi tersebut. Terlebih lagi jika kalah, jangan justru menambah uang untuk spekulasi ini.

Jangan pernah mencampurkan dana untuk investasi dan dana untuk spekulasi Anda. Dan juga jangan pernah mencampurkan investasi dan spekulasi dalam otak Anda.

Nah, bila Anda sudah siap mental untuk kehilangan uang, mari kita lanjutkan ke pembahasan yang berikutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar