Sabtu, 07 Agustus 2010

Hati

Coba perhatikan anak-anak yang sedang belajar sesuatu, mereka lebih cepat menangkap apa yang diajarkan daripada kita yang sudah dewasa.

Kenapa?

Anak-anak dapat diibaratkan kertas putih bersih, sehingga dengan mudahnya dapat ditulisi. Mereka masih lugu, polos, dan tidak memiliki prasangka buruk apapun. Inilah yang menjadikan mereka lebih cepat menangkap daripada kita yang sudah dewasa.

Sedangkan yang dewasa, kadang malu bertanya karena takut dianggap bodoh. Sok rajin karena takut dianggap malas (padahal juga tidak mengerjakan apapun, hanya duduk diam serius seolah-olah sibuk memikirkan sesuatu, padahal melamun atau main game).

Sebagai manusia dewasa, kecenderungannya selalu memperhatikan tingkah laku dan kebiasaan orang lain. Kalau sekedar memperhatikan saja ya tidak apa-apa, tetapi yang membuat menjadi parah, bila tingkah laku dan kebiasaan orang lain buruk menurut pandangannya, dijadikan omongan kemana-mana.

Padahal belum tentu yang ngomong adalah orang yang benar juga tingkah laku dan kebiasaannya. Hal itu tidak pernah disadarinya, karena tidak disadari akibatnya seolah-olah dialah yang paling benar sedangkan orang lain adalah yang paling salah.

Pahami bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Diri kita pun tidak sempurna dan selalu ada kelemahan. Berusahalah untuk memaklumi orang lain, bila Anda mampu memaklumi orang lain maka Anda akan lebih dihargai daripada yang Anda lakukan ngomong kemana-mana menyinggung orang tersebut.

Yang Anda lakukan sebenarnya hanyalah memperburuk keadaan.

Karena bila orang tersebut mendengar maka bisa saja dia marah kepada Anda. Nah.. akhirnya timbul masalah baru yang menyebabkan keadaan lebih buruk dan tidak menjadi lebih baik.

Buat apa kita lakukan sesuatu yang membuat keadaan menjadi lebih buruk? Itu hanyalah buang-buang waktu saja. Kenapa tidak digunakan waktu yang dimiliki yang sudah sangat sempit yang hanya 24 jam sehari, untuk melakukan hal-hal yang membuat keadaan lebih baik lagi.

Tidak usahlah membicarakan keburukan orang lain.

Bila Anda paham prinsip kehidupan bahwa segala hal buruk yang dilakukan saat ini, nantinya akan menghasilkan sesuatu yang buruk juga di masa mendatang, maka Anda dapat dengan lapang dada menerima keburukan yang dilakukan oleh orang lain, meskipun menyakitkan.

Ingat, hasil rajutan masa depan tergantung kepada apa yang dirajut di masa kini.

Fokuskan waktu dan pikiran Anda untuk mencapai masa depan yang lebih baik, lakukanlah merajut hal-hal produktif agar masa depan nantinya juga baik.

Selalu buka lebar pintu maaf di hati Anda, itu akan lebih nyaman dan membuat lebih damai.

Kebanyakan orang seringkali menyimpan dendam dihatinya. Begitu dendam tersimpan di hati maka otomatis akal pikiran juga akan bekerja memikirkan bagaimana cara untuk melampiaskan dendam.

Tapi coba pikir kembali, seandainya dendam tersebut terlampiaskan, apa hasilnya? Hanyalah kepuasan yang tidak produktif. Kenapa tidak dilupakan dan dimaafkan saja agar kita tetap berfokus melangkah menapak jalan sukses?

Maafkanlah dan maklumi, dengan membuka lebar pintu maaf menjadikan diri kita lebih produktif karena fokus merajut masa depan lebih baik tidak terganggu.

Biarkan saja mereka merajut masa depannya dengan benang buruk, toh Anda sudah bisa mengira-ngira hasil rajutan orang tersebut nantinya menjadi seperti apa. Buat apa dipusingkan, maafkan dan maklumi agar dada serta pikiran Anda rasanya juga lebih lapang.

Anda diciptakan untuk memiliki jalan sendiri, jadi fokuslah kepada jalan tersebut dan jangan berhenti karena ada hal kecil yang menganggu di tengah perjalanan.

Pencapaian masa depan yang lebih baik tidaklah tergantung kepada motivasi, pola pikir, tujuan yang ingin dicapai, kerja keras dan ketekunan, tetapi juga harus didukung dengan hati yang bersih.

Makin bersih hati Anda, maka makin bersih juga akal pikiran sehingga makin banyak energi yang dapat digunakan untuk mencapai titik akhir secepat mungkin.

Hati dapat diibaratkan seperti kertas penyerap tinta.

Coba beri satu tetes tinta hitam ke kertas tersebut, begitu setitik tinta hitam menetes maka dengan cepat warna hitam tersebut akan menyebar lebar. Makin banyak tinta hitam yang diteteskan, maka makin luas juga penyebarannya.

Nah, kalau sudah seperti itu, akan sulit sekali bukan untuk mengubah kembali menjadi putih bersih.

Oleh karenanya, selalu lindungi hati Anda.

Pikir dan renungkan baik-baik sebelum meneteskan tinta, karena kalau sampai salah dan akhirnya justru tinta hitam yang menetes, Anda akan kerepotan sendiri untuk membersihkannya.

Berusahalah untuk tidak meneteskan tinta hitam ke hati sendiri. Caranya?

Sangat mudah, hargai perbedaan dan buka pintu maklum serta pintu maaf selebar mungkin.

Jangan sakit hati kalau orang lain tidak satu pendapat atau satu pandangan dengan Anda, itulah perbedaan. Kalau Anda yakini pendapat Anda benar, ya lakukan dan kerjakanlah sendiri, biarkan saja yang memiliki pandangan salah, toh nantinya mereka akan terbentur tembok sendiri :)

Kalau anak buah Anda tidak mengerjakan pekerjaan yang disuruh, tidak perlu marah dan ngomel, buang-buang waktu saja, toh dengan marah dan ngomel pekerjaan sama saja tidak selesai. Ambil saja pekerjaan tersebut dan kerjakan sendiri. Itu lebih baik dampaknya, karena pasti anak buah Anda akan malu dan jengah telah diperlakukan seperti itu.

Maklumi dan maafkan, mungkin anaknya sakit atau dia sendiri sakit sehingga tidak dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut. Akibat pekerjaan diambil alih, Anda akan lebih disegani karena menunjukkan betapa bijaknya diri Anda. Justru kalau Anda marah dan ngomel, itu akan merendahkan diri sendiri karena menunjukkan betapa buruknya sifat yang Anda miliki. Yang lebih parah, kalau sampai anak buah tahu kalau ternyata Anda pun tidak mampu mengerjakan pekerjaan tersebut, bisanya hanya ngomel doang :)

Jadikanlah diri Anda seseorang yang disegani dan bukan yang ditakuti karena sering marah, lebih berkualitas menjadi yang disegani daripada ditakuti.

Kalau Anda dijadikan bahan omongan yang buruk atau Anda dimarahi orang lain, tidak perlu marah dan dendam, maafkan saja. Yang utama adalah pencapaian tujuan di masa depan. Jadi biarkan saja hal-hal itu terjadi dan jangan membuang waktu membela diri, gunakanlah pepatah "anjing mengonggong, kafilah berlalu"

Buktikan bahwa Anda mampu mencapai tujuan akhir.

Masyarakat pada umumnya selalu melihat hasil. Pernah dengar kalimat "wah, betapa enaknya kalau jadi orang itu" Itulah, yang dilihat adalah hasil akhir. Masyarakat tidak peduli dengan proses pencapaian, tetapi lebih peduli pada hasil akhir.

Jadi fokuslah kepada proses pencapaian agar hasil akhir dapat segera diraih.

Bila berhasil diraih, lihat perbedaannya.

Yang dulunya suka marah-marah dan ngomong yang buruk-buruk, begitu melihat Anda sukses, eh... langsung berubah menjadi baik banget :)

Kita menilai diri sendiri dengan mengukur dari apa yang dirasa mampu untuk dikerjakan, orang lain menilai diri kita dengan mengukur dari apa yang telah kita lakukan.

Oleh karenanya, bersihkan hati dan hindari jangan sampai ada tinta hitam menitik.

Fokus dan gunakan waktu serta energi yang ada hanya untuk 1 hal, yaitu pencapaian tujuan di masa mendatang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar